Jump to content
Adeus

TvOne & MetroTV sudah tak layak disebut TV berita

Recommended Posts

post-108-0-78703900-1404960959_thumb.jpg

 

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) telah dua kali memberi sanksi teguran tertulis pada tvOne dan MetroTV atas ketidaknetralan mereka selama proses pemilu. KPI juga telah memanggil Pemimpin Redaksi Metro TV dan tvOne guna mengingatkan keduanya. Namun rupanya kedua TV tersebut tetap saja membandel.

 

post-108-0-83745200-1404960960.jpg

 

"KPI menilai pihak Metro TV dan TV One tidak mematuhi segala upaya yang dilakukan KPI dalam rangka menjaga ranah penyiaran agar tetap digunakan untuk kepentingan publik, bukan untuk kepentingan kelompok atau golongan tertentu," kata Ketua KPI Pusat, Judhariksawan dalam rilis, Senin (7/7).

 

Judhariksawan menyebut ketidaknetralan stasiun TV bisa menimbulkan potensi konflik. KPI telah mengirimkan surat rekomendasi ke Kementerian Komunikasi dan Informasi untuk mengevaluasi izin frekuensi kedua TV tersebut. Jika perlu Kemenkominfo dapat mencabut hak siaran.

 

"KPI menilai, sesungguhnya kedua televisi tersebut sudah tidak layak menyandang predikat TV berita," tegas Judhariksawan.

 

"Perlu diingat, bahwa frekuensi yang digunakan tVOne dan Metro TV adalah sumber daya alam yang terbatas dan izin pengelolaannya hanya diberikan pada pihak yang dipandang mampu memegang amanah dan tanggung jawab yang diberikan. Jika Menteri Kominfo tidak melakukan evaluasi, KPI meminta rekomendasi dijadikan pertimbangan utama dalam proses perpanjangan izin penyelenggaraan penyiaran dari kedua lembaga penyiaran tersebut," tegasnya.

 

Sumber: https://id.berita.yahoo.com/kpi-nilai-tvone-metrotv-sudah-tak-layak-disebut-060926611.html

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • Guest news
      By Guest news
      Sebuah toko pakaian unik dibuka di kota New York baru-baru ini, yang menawarkan pakaian netral jender. “Phluid project” menjual busana yang tidak dikategorikan berdasarkan jender, untuk siapapun dengan jender dan orientasi seksual apapun.
       
    • By paimin
      Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Saatnya Alvin beranjak dari tempatnya menimba ilmu di SDN Kebon Kacang 02 Petang, Tanah Abang, Jakarta Pusat menuju rumahnya. Sekolah Alvin terletak di jantung Ibu Kota, tepatnya di belakang pusat perbelanjaan Thamrin City. 

      Akan tetapi, perjalanan Alvin untuk bisa bertemu orang tua dan saudaranya tak semudah yang dibayangkan. Bocah berusia 8 tahun itu saban harinya harus menempuh jarak sejauh 50 kilometer sebelum sampai ke rumah. 

      Alvin tak mengeluh, kondisi seperti ini sudah ia lakoni sejak 6 bulan yang lalu saat kedua orang tuanya pindah ke Parung Panjang, Bogor. Dua kaki kecilnya dengan lincah berjalan menyusuri trotoar yang dipadati kendaraan. Mengenakan tas ransel berwarna merah, topi merah putih berlambang garuda dan seragam putih Alvin tampak bersemangat. 

      Ia berhenti di depan SPBU Kebon Kacang dan menunggu angkutan umum yang biasa mengantarnya ke Stasiun Karet.Sesak udara di angkutan biru tak membuatnya menyerah. 
      Sesampainya di Stasiun Karet, siswa kelas dua itu bergegas menuju loket untuk membeli tiket ke stasiun Parung Panjang seharga Rp 6.000. Memasuki stasiun, Alvin menunggu di tempat yang paling ujung agar dekat dengan gerbong wanita. 
      "Biasanya duduk di gerbong wanita," ujar Alvin saat ditemui pada Senin (9/4). 

      Baru 10 menit ia duduk di kursi KRL, anak ketiga dari lima bersaudara itu sudah harus bersiap di pintu gerbong untuk transit di stasiun Tanah Abang dan pindah ke gerbong lain tujuan Parung Panjang. 

      Suasana stasiun Tanah Abang memang selalu ramai dan padat oleh pengunjung, terlebih di jam-jam pulang kantor. Duh, tak terbayang anak sekecil itu harus berdesakan bersama orang dewasa lainnya. 

      Belum lagi, ia harus gerak cepat untuk mendapatkan tempat duduk, bila tak ingin berdiri selama 1,5 jam hingga sampai ke tujuan akhir, stasiun Parung Panjang. 
      Selama di dalam gerbong, Alvin lebih banyak diam dan menikmati pemandang melalui kaca bening yang ada di gerbong KRL. Sesekali ia berjalan menyusuri gerbong, tak jarang beberapa orang yang ditemuinya bertanya-tanya. 
      "Kamu naik KRL yang ngajarin siapa?" tanya seorang perempuan berambut panjang di sebelahnya. 
      "Aku sendiri," jawab Alvin. 
      "Ya Allah, anak gue seumuran dia ini, enggak tega lihatnya," sahut perempuan berkacamata yang duduk di depan Alvin. 

      Setelah menempuh waktu 1,5 jam menggunakan KRL, akhirnya kereta mengantarkan Alvin di pemberhentian terakhir yakni stasiun Parung Panjang. "Habis dari stasiun, biasanya jalan kaki kalau enggak ada ongkos. Tapi kalau punya ongkos naik mobil (omprengan)," kata Alvin 

      Langit semakin gelap, Alvin berlari kecil mengejar kendaraan roda empat berwarna hitam alias omprengan yang sedari tadi terparkir di seberang stasiun. Si sopir menjalankan omprengannya dengan hati-hati, karena jalan yang dilalui belum beraspal, berlubang, dan digenangi air. 

      Jarak dari stasiun Parung Panjang menuju rumah Alvin masih sekitar 7 km atau 20 menit dengan mengendarai omprengan. Itu pun bila uang saku Alvin masih tersisa, berbeda saat uang jajannya habis di perjalanan. Alvin akan berjalan dari stasiun Parung Panjang menuju rumahnya. 
      "Turun di mana dek?" tanya si sopir kepada Alvin. 
      "Di minimarket Ceria," sahut Alvin. 

      Rumah Alvin berada di paling ujung berdampingan dengan kebun yang terlihat tak terawat. Bangunan sederhana namun hangat. Di rumah itu, Alvin tinggal bersama ayah, ibu, tiga saudaranya, dan keluarga tantenya. 

      Sesampainya di rumah, Alvin lantas melepas sepatu dan berganti baju. Lalu bermain dengan saudara-saudaranya, bertemu ibu dan teman-teman lainnya. 

      "Saya bangga sama Alvin, saya merasa sedih apalagi kalau lihat Alvin tidur. Saya sedih banget lihat dia kecapekan," ujar Lasmawati, ibunda Alvin. Sebelum tertidur, ibu bertanya,"Ada PR enggak? Kalau ada dikerjain dulu," kata ibu. 

      Alvin menggeleng, ia sibuk bercengkerama dengan adik bungsunya yang masih berusia 7 bulan. Ayah Alvin jarang pulang karena mencari nafkah untuk keluarga. 
      "Kerjanya serabutan, kadang empat hari baru pulang bawa Rp70 ribu. Yah dicukup-cukupin aja," ujar wanita berusia 38 tahun itu. Saat azan magrib berkumandang, Alvin pulang ke rumah lalu beristirahat. Jarak 50 kilometer yang ia tempuh tentu membuat raganya lelah.
      Sumber: https://id.crowdvoice.com/posts/alvin-tempuh-jarak-50-km-dari-sekolah-ke-rumah-2KtG



    • Guest News
      By Guest News
      Layanan cloud alias komputasi awan seperti Dropbox dan Google Drive memungkinkan konsumen pribadi maupun usaha menyimpan berkas-berkas yang bisa diakses dari mana saja. Layanan-layanan tersebut menjanjikan keamanan data yang tersimpan, meski peneliti mencatat enkripsi ini perlu lebih ketat lagi.
       
    • By berita_semua
      Komedian Aming Sugandhi, resmi melayangkan surat permohonan cerai ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Jumat (3/3/2017).
      Meski pengacaranya belum menjelaskan alasan Aming menggugat cerai istrinya, Evelyn Nada Anjani, namun ada fakta mengejutkan dalam gugatannya.
      Terungkap ada unsur Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dalam konflik rumah tangga keduanya.
      "(Alasan permohonan cerai yakni adanya) perselisihan, pertengkaran terus menerus, dan ada KDRT," kata Jarkasih, Humas Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Jumat (3/3/2017).
      Dilanjutkan Jarkasih, unsur KDRT bisa berasal dari kedua belah pihak. Kekerasan tersebut juga bisa berbentuk fisik maupun psikis.
      "Bisa dua duanya, ada dari Evelyn-nya, ada dari Aming-nya. KDRT yang saya baca secara verbal dan non verbal," lanjut Jarkasih.
      Jarkasih juga menjelaskan, per hari ini telah terdaftar permohonan talak atas nama Aming Supriatna Sugandhi kepada Evelyn Nada Anjani dengan nomor surat 826 tahun 2017.
      Aming mendaftarkan surat permohonan cerai tersebut diwakili pengacaranya Devi Waluyo.
      Dalam seminggu ke depan, penetapan hari pertama sidang perceraian akan dipilih majelis hakim.
    • By berita_semua
      Seorang pramugari berkisah bagaimana ia telah berhasil menyelamatkan seorang remaja perempuan dari seorang pedagang manusia dengan meninggalkan catatan rahasia di toilet pesawat.
      Sheila Fedrick yang bekerja untuk maskapai Alaska Airlines tak menyangka jika seorang gadis berusia sekitar 14 tahun tengah dalam masalah serius ketika dalam penerbangan dari Seattle ke San Francisco, California, Amerika Serikat.
      Dilansir Metro, Selasa (7/2/2017), ia mengatakan bahwa sang gadis duduk di sebelah seorang pria tua yang terlihat cerdas. Sedangkan gadis itu tampak hanya diam dengan raut wajah murung.
      Ketika ia mencoba untuk berbicara dengan gadis itu, orang-orang akan memperhatikannya. Maka, ia pun memutuskan lebih baik untuk bertindak.
      "Saya meninggalkan catatan di salah satu kamar mandi. Dia menulis kembali dan berkata 'saya butuh bantuan'," kata Sheila kepada NBC.

      Pramugari itu pun segera menjelaskan kepada pilot tentang kondisi yang tengah dialami gadis itu. Ia pun langsung mengatur agar polisi bisa menunggu mereka ketika mereka tiba di bandara.
      Sheila yang telah menjadi pramugari selama 10 tahun ini mengklaim jika membantu menghentikan perdagangan manusia menjadi sikap naluriahnya.
      Ketika peristiwa penyelamatan berlangsung, Sheila ternyata telah menuliskan nomor teleponnya di catatan gadis itu. Tak disangka, sang gadis hafal nomor tersebut dan beberapa minggu kemudian gadis itu pun menghubungi Sheila.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy