Jump to content
Sign in to follow this  
Guest Metrotvnews

Soal Perppu Kebiri, Pemerintah Dinilai Hanya Penuhi Emosi Masyarakat

Recommended Posts

Guest Metrotvnews
Metrotvnews.com, Jakarta: Penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) nomor 1 tahun 2016 tentang Perlindungan Anak menjadi polemik. Perppu tersebut dinilai terbit lantaran hanya untuk memenuhi respons emosional sesaat dari masyarakat banyak.

Peneliti Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Erasmus Napitupulu mengatakan, terbitnya Perppu yang lebih fokus kepada hukuman kebiri bagi pelaku, karena hanya ingin memenuhi emosional sesaat masyarakat. Pemerintah tidak mempertimbangkan secara mendalam dampak dari terbitnya Perppu.

"Perppu sekadar memenuhi emosional sesaat dari masyarakat, sehingga Presiden Joko Widodo melupakan konteks pemulihan kepada korban," kata Erasmus di Jakarta, Minggu (28/5/2016).

Selain itu, Erasmus menilai, penyusunan Perppu ini juga tidak dilakukan dengan cara demokratis. Sehingga, saat diterbitkan pun dirasa dikeluarkan dengan cara-cara represif.

Ia mengatakan, sebelum Perppu terbit, pihaknya sempat beberapa kali bertemu dengan pemerintah, namun tidak digubris. Bahkan, pertemuannya dengan Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani tidak sekalipun mereka diberikan draft Perppu tersebut.

"Kalau dibilang sudah dikonsultasikan dengan masyarakat, itu bohong. Kami tidak pernah mendapatkan Perppu secara resmi," tegasnya.

Erasmus menjelaskan, terbitnya Perppu juga tidak menjamin secara efektif dapat menekan angka kejahatan seksual, termasuk kejahatan seksual terhadap anak di Indonesia. Karenanya, Ia dengan tegas menolak penerbitan Perppu tersebut.

Selain itu, Perppu ini menunjukkan bahwa politik hukum pidana yang dianut pemerintah tidak berdasarkan kajian dan alasan yang rasional, tapi alasan emosional. Tidak hanya itu, Perppu tersebut juga dianggap tidak sekalipun berpegang pada basis data yang cukup baik terkait angka kekerasan seksual yang dilaporkan, dituntut, dan disidangkan.

Perppu Tidak Memikirkan Masa Depan Korban

Dalam pandangannya, Erasmus melihat, Perppu masih menitikberatkan hukuman bagi para pelaku. Sehingga pemerintah melupakan masa depan dari para korban.

Padahal, menurut dia, aspek pemulihan korban juga perlu jadi pertimbangan. "Posisi korban semakin lemah, karena pengaturan rehabilitasi yang komprehensif bagi korban tidak diatur dalam Perppu ini," tegas dia.

Senada dengan Erasmus, penyintas korban kekerasan seksual, Helga Worotitjan mengatakan, terbitnya Perppu terasa tidak adil. Sebab, dalam Perppu yang menitikberatkan hukuman bagi pelaku pasti diatur soal biaya anggaran yang harus dikeluarkan pemerintah.

Hal tersebut, kata dia terasa janggal. Padahal, selama ini biaya pemulihan korban tidak pernah dibiayai oleh pemerintah.

Tidak hanya itu, Perppu ini juga tidak akan menghentikan kasus kekerasan seksual. Pasalnya, pemerintah dinilai malah menyelesaikan masalah kekerasan dengan kekerasan lainnya.

"Pengekalan kekerasan ini membuat rantai kekerasan tidak akan berhenti. Pemerintah tidak menggali dari akar masalah," paparnya.

Seperti diketahui, Presiden Jokowi menerbitkan Perppu mengenai hukuman tambahan bagi pelaku kejahatan seksual. Perppu nomor 1 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua UU 23 tahun 2002 ini segera dikirim ke DPR untuk disahkan.

Perppu akan mengatur pemberatan pidana, hukuman kebiri, pemasangan alat deteksi, dan pengumuman identitas pelaku ke publik. Jokowi memberi catatan mengenai pemberatan pidana berupa penambahan hukuman sepertiga dari ancaman pidana.

Wacana hukuman kebiri ini muncul setelah kasus pemerkosaan yang berujung kematian menyeruak. Salah satunya, masyarakat digegerkan oleh kasus pemerkosaan yang menimpa YY di Bengkulu yang nyawanya dihabisi setelah diperkosa oleh 14 pelaku.

www.metrotvnews.com

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
Sign in to follow this  

×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy