Jump to content
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74
Sign in to follow this  
berita_semua

Kisah dokter autopsi penembakan 12 Mei 1998

Recommended Posts

Abdul Mun'im Idries baru saja menginjak lantai rumahnya di Cengkareng, Jakarta Barat. Tiba-tiba telepon genggam dokter forensik itu berdering.

"Dok, bantu kami, dok. Ada korban penembakan." Mun'im mengenali suara itu: Kasat Serse Polres Metro Jakarta Barat, Kapten Idham Azis. Malam itu, Selasa 12 Mei 1998.
"Di mana, Pak?"
"Korban ada di RS Sumber Waras. Dokter meluncur saja ke pos polisi di Terminal Grogol."
Tanpa mengganti baju, Mun'im segera menuju pos polisi tersebut. Sesampai di sana, ia diminta menunggu. Sampai pukul 23.00 WIB, tak ada kabar.

Mun'im lalu berujar, "Pak, daripada menunggu tidak jelas, lebih baik saya berangkat ke Sumber Waras. Toh tidak jauh dan jalanan sepi, tinggal lurus saja."

Usul Mun'im diterima. Polisi tak berseragam memboncenginya dengan sepeda motor. Dua petugas lain menemani, dengan sepeda motor berbeda. Jakarta sunyi mencekam. Para polisi itu memilih jalan tikus, bukan menyusuri jalan utama.

"Pak dokter, kita tidak tahu siapa kawan siapa lawan. Ini semua demi keselamatan dokter," kata si petugas ketika ditanyakan soal pilihan rutenya seperti diceritakan Mun'im dalam buku "Indonesia X-Files: Mengungkap Fakta dari Kematian Bung Karno sampai Kematian Munir."
Setiba di RS Sumber Waras, Mun'im baru tahu ada empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas ditembak. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Mereka menjemput ajal di kampus usai berdemonstrasi.

Demonstrasi didorong ekonomi Indonesia yang kolaps sepanjang 1997-1998. Banyak perusahaan gulung tikar, gelombang PHK massa menerjang. Rezim Orde Baru jadi target kemarahan. Para mahasiswa di seluruh Indonesia turun ke jalan, termasuk para mahasiswa Universitas Trisakti.

Mereka bergerak dari kampus Trisakti di Jalan Kiai Tapa, Jakarta Barat, menuju Gedung DPR/MPR pada pukul 12.30. Namun mereka dihadang polisi dan militer di depan kantor Wali Kota Jakarta Barat.

Mahasiswa coba bernegosiasi. Tetap dilarang ke Senayan. Mereka pun menggelar aksi di Jalan S Parman tersebut.

Pada pukul 17.15 WIB, para mahasiswa mundur ke arah kampus. Ketika sebagian besar mahasiswa telah masuk ke halaman kampus, terdengar bunyi tembakan beberapa kali.

Arahnya dari jembatan layang Grogol. Tak jelas siapa pelakunya. Saat tembakan reda, diketahui empat mahasiswa tewas.

Sebelum autopsi, Mun'im harus membujuk keluarga korban yang melarang.

"Bu, memang benar yang sudah wafat tidak mungkin bisa dihidupkan kembali. Akan tetapi almarhum masih mempunyai hak, hak untuk memperoleh keadilan..." kata Mun'im saat itu -- pakar forensik legendaris ini meninggal dunia pada 27 September 2013.

Sekitar 15 menit negosiasi berlangsung. Akhirnya autopsi bisa dilakukan.

"Masing-masing mendapat luka tembak pada daerah yang mematikan, bukan untuk melumpuhkan. Ini jelas dari lokasi luka tembak...Ada di dahi dan tembus ke daerah belakang kepala, ada di daerah leher, di daerah punggung, dan ada yang di daerah dada," tulis Mun'im. Semua tewas karena peluru tajam.
Sesuai kesepakatan, Mun'im mengontak petugas Polres Jakarta Barat, memberi tahu bahwa autopsi kelar. Jarum jam menunjukkan pukul 04.00. Bukan diantar kembali ke rumah, Mun'im malah diajak ke Mapolda Metro.

Kapolda Metro, Mayjen Pol Hamami Nata, telah menunggu. Mun'im menjelaskan hasil autopsi seraya menunjukkan proyektil peluru yang membunuh empat pemuda itu. Hamami termangu, matanya menerawang.

"Saya sudah perintahkan kepada semua anak buah saya agar mereka tidak menggunakan peluru tajam. Mereka yang menghadapi pengunjuk rasa hanya dibekali peluru karet atau peluru hampa yang terbatas jumlahnya. Dari mana datangnya peluru ini?" ujar Hamami. Berulang kali Hamami menegaskan hal itu.

Mun'im langsung menduga bahwa Polda Metro dikerjain. Entah oleh siapa.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By Brenda_Christie
      Setiap orang tentu memiliki kriteria masing-masing saat hendak menjalin hubungan dengan orang lain. Salah satu hal yang dipertimbangkan adalah pekerjaan calon pasangan. Beberapa orang mungkin ada yang mengharapkan memiliki pasangan seorang dokter. Sebab hingga saat ini dokter masih dianggap sebagai profesi dengan gaji tinggi.
      Bagi Anda yang memiliki keinginan serupa, tahukah bahwa menjadi pasangan dokter tidak mudah? Tidak percaya?
      Kehidupan medis tidak terlalu fleksibel
      Sama seperti pekerjaan lain, dokter juga memiliki jadwal praktek. Hanya saja terkadang dokter harus menyelesaikan pekerjaannya menangani pasien hingga kondisi sudah stabil. Dengan begitu dokter tidak bisa pergi begitu saja di tengah-tengah kondisi darurat. Bahkan dokter harus siap dipanggil kapan saja saat ada pasien yang membutuhkan.
      Meskipun pada saat itu dirinya sedang ada acara keluarga atau sedang bersama dengan pasangan. Selain itu, tempat tinggal dokter terkadang harus mengikuti tempatnya ditugaskan praktek. Kondisi ini sering terjadi pada saat dokter hendak mengambil spesialisasi dan sekolah lebih lanjut. Pasangan pun harus siap dengan kondisi ini.
      Memiliki waktu kehidupan yang berbeda dari orang lain
      Salah satu bagian tersulit menjadi pasangan dokter adalah sulitnya bertemu dengan orang lain sesuai jadwal semestinya. Sebagai contoh, ibu rumah tangga biasa mungkin menyempatkan waktu bertemu dengan teman di hari kerja dan menghabiskan waktu dengan keluarga di akhir pekan. Tapi dokter kadang memiliki waktu luang di hari kerja dan bekerja di akhir pekan. Saat itu tentu sebagai pasangan yang baik harus ada di rumah untuk menemani suami. Sedangkan bertemu di akhir pekan dengan teman sedikit sulit karena mereka ingin menghabiskan waktu bersama keluarga.
      Sulit untuk merencanakan sesuatu
      Merencanakan segala sesuatu adalah tindakan yang baik. Tapi rencana bisa jadi tinggal rencana saat harus berhadapan dengan jadwal praktik dokter. Seperti yang dikatakan sebelumnya, jam pulang kerja dokter tidak jelas. Begitu juga dengan waktu liburnya. Belum lagi bila mereka dibutuhkan mendadak di hari libur.
      Merasa tidak mengenal pasangan
      Kesibukan dan rutinitas yang berbeda dari dokter terkadang membuat seseorang tidak mengenal pasangannya. Terutama saat menemani mereka dalam pertemuan-pertemuan yang melibatkan banyak dokter. Sementara dokter mungkin akan bercakap-cakap tentang dunia medis kepada rekannya dengan penuh semangat, pasangan hanya bisa mendengarkan tanpa bisa mengerti. Itu bisa terasa sangat menjengkelkan karena seolah-olah Anda tidak mengenal pasangan dan tidak mengetahui apapun soal dunianya.
      Timbul perasaan bersalah dan sedih
      Ini mungkin merupakan bagian tersulit menjadi pasangan dari seorang dokter. Tak sedikit orang yang merasa bersalah karena ada banyak hal baik tentang menikah dengan dokter tapi banyak pula hal buruk yang dapat terjadi. Kondisi ini terkadang bisa sangat sulit untuk diceritakan pada orang lain karena mereka tidak mengerti kondisinya.
    • By desianiputri
      Dokter itu melayani dan bekerja untuk kepentingan masyrakat. Keyakinan hati dokter muda, Benediktus Andries ini, buat dirinya ingin bebaskan Papua dari malaria.
      Meski bertempat tinggal di Ibu Kota Jakarta dan berasal dari Kota Bogor, seorang dokter tapan bernama Benediktus Andries lebih memilih bekerja di Papua. Alasannya sangat mulia, ingin membebaskan Papua dari malaria.

      Dokter muda yang akrab disapa Andries itu kini bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Malaria Timika, di Kabupaten Mimika Papua. Sebelumnya, ia bekerja sebagai dokter umum di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika.
      Pria yang sempat mengikuti program internship di Pulau Sumbawa, NTB ini tertarik untuk mengabdikan dirinya di Tanah Papua karena tingginya angka malaria dan kurangnya pelayanan medis. Ia mengaku ingin membebaskan Papua dari Malaria.

      “Saya ingin melalui penelitian ini, goalnya “Timika bebas dari Malaria. Papua bebas dari Malaria, dan harapannya adalah se-Indonesia bebas malaria. Tapi segala sesuatu harus dimulai dari hal paling terkecil dulu kan?”
      Meski medan di Timika tak mudah, dengan fasilitas yang tak secanggih di perkotaan, baginya ini merupakan tantangan tersendiri. Ia juga sangat yakin bahwa merupakan tugas dokter untuk melayani dan bekerja untuk kepentingan masyarakat.
      “Buat saya, saya menjunjung tinggi profesi. Dokter itu melayani dan bekerja untuk kepentingan masyarakat. Nggak semua orang bisa menjadi dokter. Saat sudah menjadi dokter, harapannya kita bisa mengaplikasikan apa yang kita miliki untuk masyarakat,”
      Sudah siapkah kamu mengabdikan diri untuk kepentingan masyarakat? Yuk, ikuti jejak Andries ndral!
    • By kotawa
      No party for Avicii! Yap. DJ asal Swedia itu baru saja melakukan operasi atas penyakit yang dideritanya. Menurut kabar, Aviciimengalami infeksi usus buntu. Karena itu, ia pun harus berhenti membuat keriaan party, setidaknya untuk satu bulan mendatang.
      Im sorry for having to postpone the shows this month. I sincerely rly wish I didnt have to but unfortunately theres no going around it.
      Avicii

      Keadaan Avicii dirumah sakit
      "Maafkan saya karena harus menunda (jadwal) show untuk bulan ini. Saya sungguh tidak ingin melakukannya tetapi tidak ada cara lain," kataAvicii di Twitter.
      Bagi siapapun, kesehatan adalah yang utama. Setelah jatuh sakit, Aviciipun baru merasakan hal tersebut.
      "Kesehatan adalah yang utama apalagi setelah (operasi-RED) pengangkatan usus buntu. Peringatan dokter begitu keras bagi saya," jelas Avicii.
      Get well soon Avicii, and dancefloor gonna miss you :)
    • By haji34

      Ketika dokter diminta melakukan tes keperawanan, mereka mesti menolak karena secara medis tidak perlu dan dapat menimbulkan bahaya psikologis, demikian pendapat sejumlah pakar etika Amerika Serikat. 
      Pemeriksaan seputar panggul ini dilakukan di banyak negara di dunia sebelum seorang perempuan menikah. Namun dokter tak setuju adanya pemeriksaan tersebut, seperti dilansir Reuters. Pasalnya ada tiga hal dalam etika profesi yang dilanggar, yakni melindungi kesejahteraan pasien, menghormati kedaulatan tumbuh perempuan, dan mendukung keadilan, demikian ditulis kelompok ahli etika dalam jurnal The Lancet.
      “Tes keperawanan tidak melindungi dan mendukung kesehatan pasien perempuan. Karenanya tes keperawanan sangat tak kompatibel dengan tiga prinsip etika profesional obstetri dan ginekologi,” kata Laurence McCullough, peneliti kebijakan etika dan kesehatan di Baylor College of Medicine di Houston, AS, sekaligus co-author esai tersebut. 
      Tes keperawanan bisa menyakitkan dan membuat perempuan merasa dipermalukan atau direndahkan, ujar McCullough menambahkan lewat email.
      "Tak ada manfaat kebersihan klinis dan risiko pencegahan dari bahaya biopsikososial,” ujar McCullough.
      Dalam tes tersebut, yang kerap disebut tes “dua jari”, dokter melakukan pemeriksaan dalam vagina untuk merasakan adanya selaput dara, membran tipis yang dipercaya beberapa budaya akan tetap utuh hingga perempuan melakukan hubungan seksual.
      Padahal ada perempuan yang terlahir tanpa selaput dara, dan membran tersebut juga dapat robek atau meregang akibat aktivitas, seperti olah raga atau menggunakan tampon.
      Sejumlah organisasi HAM mengutuk tes keperawanan, menyebutnya tak berperikemanusiaan dan tak beretika. Menurut WHO, “tak ada tempat bagi tes keperawanan (atau 'dua jari'). Tak ada validitas ilmiahnya.”
      Walau begitu, praktik ini tetap diberlakukan di banyak negara, antara lain India, Turki, Afganistan, Mesir, Libya, Yordania, Indonesia, dan Afrika Selatan. Tes keperawanan di tempat-tempat tersebut dilakukan karena budaya atau agama bahwa perempuan harus perawan hingga pernikahan.
      Tes keperawanan juga dilakukan di kondisi lain untuk memastikan perempuan tersebut, misalnya, masih perawan ketika masuk militer; serta ketika perempuan dituduh atas kejahatan moral atau lari dari rumah.
      Di Afrika Selatan, tes keperawanan awalnya menimbulkan pro-kontra. Namun  kemudian jadi umum dilakukan bersamaan meningkatnya epidemik AIDS, ujar Louise Vincent, peneliti dalam tes keperawanan dan isu kesehatan reproduksi perempuan di Rhodes University di Afrika Selatan yang tak dilibatkan dalam penelitian.
      Dalam konteks AIDS, di negara yang banyak perempuan mudanya melaporkan pengalaman seksual pertama mereka bukan suka sama suka, momok tes keperwanan dapat berfungsi sebagai pencegah hubungan seksual yang tak diinginkan di masa depan, ujar Vincent. 
      Walau dalam kondisi seperti ini, tes keperawanan tak etis dilakukan dokter, ujar McCullough. “
      Tak ada situasi di mana pasien perempuan dapat dianggap lebih baik melakukan tes keperawanan,” kata McCullough.
    • By MariaAngeline
      Saat mengalami sakit yang mungkin dirasa ringan, kebanyak orang akan mengabaikan rasa sakit tersebut. Mereka mungkin hanya akan meminum obat atau antibiotik untuk meringankannya dan tidak memeriksakan diri ke dokter. Mulai saat ini, jangan melakukannya lagi ya, karena gejala-gejala ringan seperti itu bisa jadi adalah tanda suatu penyakit yang tidak bisa dianggap remeh.

      Seorang gadis belia bernama Natasha Willard harus mengalami kelumpuhan dan kehilangan kemampuan bicara karena tidak segera menangani rasa sakit yang dialaminya. Natasha dan keluarganya menganggap bahwa ia hanya terkena flu. Namun lama-kelamaan, keadaan Natasha semakin memburuk.
      Setelah beberapa hari, gadis berusia 17 tahun ini tidak bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Hingga yang paling parah, ia kehilangan kemampuannya berjalan dan berbicara. Kini keluarganya sedang mencoba untuk mengajarinya mengatakan beberapa hal, dan kata-kata yang bisa ia ucapkan hanya nama beberapa orang, kata sapaan, serta kata “yeah”.

      Mulanya, dokter tidak bisa memastikan penyakit apa yang diderita oleh Natasha. Namun setelah meneliti lebih lanjut, mereka mengatakan bahwa Natasaha terkena peradangan otak yang disebut encephalitis. Kini Natasha hanya bisa berbaring lemah di tempat tidurnya.
      Keluarganya kini sedang berusaha untuk mengumpulkan biaya untuk pengobatan gadis malang tersebut. Sebentar lagi adalah ulang tahun Natasha yang ke 18, mereka berharap saat itu Natasha sudah pulih dan bisa kembali lagi ke rumah.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy