Jump to content

Pemuda Surabaya Tembus Industri Film Hollywood Karena Kreatifitasnya


Guest News

Recommended Posts

Guest News

E8223257-03C8-437D-B63C-BC12A5E5BBBD_w640_r1_s.jpg

Warga Indonesia, Reynold Tagore di Selandia Baru adalah seorang 'texture artist' untuk film-film Hollywood di perusahaan WETA Digital, milik sutradara Peter Jackson.

Siapa yang menyangka jika di balik kesuksesan film-film Hollywood yang meledak di Box Office ternyata ada goresan tangan kreatif muda Indonesia, Reynold Tagore?

Berawal dari hobi menggambar monster sejak kecil setiap pulang sekolah, kini warga Indonesia, Reynold Tagore, menekuni profesi sebagai seorang Texture Artist untuk film-film Hollywood di perusahaan WETA Digital di Selandia Baru, milik sutradara pemenang tiga piala Oscar, Peter Jackson.

“Kalau dulu diomeli, sekarang dibayar,” kata Reynold Tagore sambil bercanda saat dihubungi oleh VOA Indonesia belum lama ini.

Pertama kali melihat namanya muncul di akhir film atau credit title, Reynold mengaku terharu.

"Hampir nangis rasanya," kenang pria kelahiran tahun 1979 ini.

Sebagai seorang Texture Artist, Reynold memiliki peranan penting dalam penggarapan sebuah film, di mana ia harus menciptakan gambar atau animasi yang terlihat hidup dan orisinal di layar lebar.

“Intinya kasih warna, kasih permukaan (ke) semua yang ada di film. Anggap saja pelukis, cuma ini buat di komputer. Jadi misalnya karakter atau monster atau barang yang ada warnanya sama permukaannya, itu kita yang tangani,” jelas Reynold.

7CC71D05-B0D2-4367-8979-4A499637ED43_w640_s.jpg

Tugas Reynold adalah menggambar permukaan sebuah obyek atau karakter tiga dimensi yang telah dibuat sebelumnya, sehingga nampak seperti aslinya. Gambar tersebut bisa berupa wajah seseorang hingga hal kecil seperti tong sampah atau tiang listrik.

“Enggak ada warna, enggak ada detil(nya) juga. Jadi misalnya manusia gitu, kulitnya mulus, enggak ada kerut, enggak ada pori-pori cuman warna abu-abu mulus,” kata Reynold yang sudah bekerja di perusahaan WETA Digital sejak tahun 2012 lalu.

Untuk bisa menciptakan gambar yang otentik, biasanya Reynold berpaku kepada foto aslinya.

“Kalau misalnya mengerjakan (gambar) orang dan orang itu ada orang aslinya, saya reference-nya pakai foto-foto mereka ada foto mereka dari depan samping atas, itu saya coba ikuti sedekat mungkin, jadi seumpama di render orang enggak bisa membedakan foto sama yang 3d model,” ujar lulusan Universitas Tarumanegara dan S2 di University of Technology Sydney, Australia jurusan desain grafis ini.

Hingga kini Reynold sudah terlibat dalam banyak penggarapan film Happy Feet 2, Hobbit 1, 2, dan 3, Iron Man 3, Wolverine, Fast and Furious 7, Maze Runner, Alvin and the Chipmunks: the Road Chip, Jungle Book, dan Batman v Superman: Dawn of Justice.

“Batman v Superman, saya kebagian bikinnya yang musuh-musuhnya,” ujar Reynold sambil tertawa. “Kan ada kayak orang militer musuhnya, terus ada senjata, ada (yang) terbalik kayak helikopter, mobil, bis, kayak begitu saya bagiannya,” lanjutnya.

Walaupun tidak sepenuhnya terlibat, Reynold mengaku sangat puas akan hasil karyanya dalam film Batman v Superman: Dawn of Justice ini.

“Inginnya satu film dibikin sama WETA semua, jadi saya dapat kebagian lebih banyak lagi,” papar pecinta karakter Batman ini.

Merupakan sebuah kelegaan dan kepuasan tersendiri ketika sebagai seorang Texture Artist, Reynold bisa menjadi bagian dari proses penggarapan film-film yang menampilkan karakter-karakter favoritnya, seperti Iron Man, Wolverine, dan Hobbit.

Menurut Reynold film yang paling menantang yang pernah ia ikut garap adalah film Hobbit, ketika ia baru saja menjadi karyawan baru di perusahaan WETA Digital. Ditambah lagi, film ini adalah salah satu alasan mengapa ia bertekad ingin bisa bekerja di perusahaan WETA Digital yang memang memproduksi film tersebut secara utuh.

“Di situ kan bikin troll, dwarf gitu. Itu yang udah saya tunggu-tunggu seumur hidup saya, jadi saya harus membuktikan ke diri saya sendiri kalau saya bisa bikin sebagus apa yang dulu saya lihat di film “Lord of the Rings,” kata pria yang banyak belajar mengenai animasi langsung dari Internet ini.  

Tantangan lain yang biasa ia hadapi sebagai seorang Texture Artist adalah bagaimana agar bisa menciptakan gambar yang terlihat mirip dengan aslinya jika dilihat di layar bioskop yang besar.

“Di layar bioskop itu kan gede sekali, jadi kalo misalnya ada yang kelihatan jelek sedikit, orang bisa lihat. Jadi menurut saya tantangan paling gede di situ,” jelas pria asal Surabaya ini.

Profesi sebagai Texture Artist terkadang tidak mengenal waktu. Namun, Reynold tidak pernah menganggap hal itu sebagai duka. Sangatlah beruntung karena ia bisa menemukan pekerjaan yang sesuai dengan hobi dan impiannya.

“Ini departemen yang paling atau mungkin satu-satunya yang paling ada hubungannya sama saya, gambar atau lukis atau yang artistik gitu, jadi saya fun saja tiap hari,” ujar pria yang pernah menekuni profesi sebagai Story Board Artist ini.  

Bagi teman-teman yang tertarik untuk menekuni profesi seperti dirinya, Reynold berpesan untuk selalu rajin berlatih dan banyak mencari informasi untuk mengejar cita-cita.   

“Tiap malam latihan, kadang korbankan weekend enggak apa-apa, asal buat masa depan yang bagus. Latihan menggambar atau apa saja sih. Research sebanyak mungkin apa yang kita mau, terus apa yang kita mau kerja di mana, itu kita latih skill kita sampai standar yang kita bikin,” papar Reynold.

Karena berhubungan dengan gambar, Reynold mengatakan untuk mencari pekerjaan sebagai Texture Artist bukanlah hal yang mudah, karena setiap perusahaan memiliki gaya yang berbeda, sehingga tidak gampang untuk menemukan orang yang sesuai dengan gaya gambar di perusahaan tersebut.

Saat ini Reynold tengah disibukkan oleh penggarapan film the BFG (Big Friendly Giant) yang diadaptasi dari novel kanak-kanak karya penulis Roald Dahl. Perjalanan Reynold sebagai Texture Artist masih panjang. Ia berencana untuk terus meningkatkan keahliannya. Lalu apa rencana jangka panjang dari Reynold?

“Kalau jangka panjang inginnya menang (piala) Oscar,” jawab Reynold.

Kalau begitu kita tunggu gebrakan selanjutnya dari Reynold Tagore.

Link to comment
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By Males
      Pertanyaan bagaimana kelanjutan serial drama Korea Selatan (drakor) Squid Game masih banyak jadi pertanyaan penikmatnya.
      Masih banyak yang berharap Squid Game season 2 akan rilis untuk melanjutkan kisah yang masih menggantung.
      Serial drakor Squid Game yang tayang di Netflix sempat menjadi serial nomor satu di semua negara.
      Serial dengan genre survival ini mendapatkan tempat di hati penonton.
      Karena sukses, penonton pun bertanya kapan akan ada Squid Game season 2.
      Dikutip dari Allkpop, sutradara Hwang Dong Hyuk buka suara mengenai kemungkinan season 2.
      Namun, orang-orang yang ada di balik permainan Squid Game.
      Misalnya tokoh frontman dan juga tokoh polisi.
      "Aku sengaja membuat beberapa hal dalam cerita menjadi terbuka untuk diskusi. Hal itu agar dapat terjawab di season 2 nanti jika akan dibuat," katanya.
      Hwang Dong Hyuk mengatakan pada Squid Game season 2 nanti, ia ingin membongkar mengenai masa lalu frontman dan juga Junho.
      "Serta pria yang membawa ddakji dengan kopernya di bagian awal cerita, Banyak hal yang belum dijelaskan di season 1. Jadi aku ingin menjelaskannya di season 2," terangnya.
      Meski begitu, Hwang Dong Hyuk mengatakan tidak akan mengerjakan ini sendirian.
      Karena stres yang dirasakannya saat menggarap season 1, dirinya ingin berbagi pengerjaan Squid Game 2 dengan filmaker lainnya.
      "Karena aku mengerjakan penulisan, produksi dan menyutradarai sendiri dan itu berat Maka aku sangat khawatir mengenai season 2," kata dia.
      "Saat ini memang belum ada konfirmasi apapun. Tapi aku menjadi tertarik karena semua orang membicarakan mengenai season 2", tutupnya.
      Ada berbagai hal yang 'kentang' alias kena tanggung di serial Squid Game.
      Di antaranya adalah: siapa dalang di balik semua ini?
      Apakah Hwang Jun Ho di polisi yang menyamar masih hidup?
      Ada apa dengan makeover Seong Gi Hun?
      Siapakah Gong Yoo, sang salesman yang merekrut pemain?
      Bagaimana para staff direkrut?
      Apakah mereka mendapat hadiah juga?
    • By yhosan
      The Walt Disney Company (Disney) bekerja sama dengan Telkomsel untuk peluncuran perdana Disney+ (Plus) Hotstar di Indonesia. Posisi Telkomsel sebagai operator telekomunikasi terbesar menjadi salah satu alasan utama kolaborasi ini.
      Regional Lead Emerging Markets The Walt Disney Company APAC, Amit Malhotra, menjelaskan salah satu tujuan Disney Plus Hotstar adalah untuk menghadirkan konten berkualitas sebagai bagian dari perkembangan inovasi digital di Indonesia. Hal ini juga sejalan dengan visi Telkomsel.
      Sebagai operator besar, Telkomsel dinilai memiliki infrastruktur dan jaringan broadband luas, sehingga memiliki akses lebih luas untuk menjangkau masyarakat.
      "Disney ingin memberikan konten digital berkualitas, sama dengan visi Telkomsel. Kami pikir bisa mencapai itu melalui kerja sama dengan Telkomsel agar dapat memberikan konten bagus ke Indonesia, akses mudah dan harga terjangkau untuk semua orang," tutur Amit.
      Jumlah pengguna internet yang cukup tinggi di Indonesia, dan pelanggan Telkomsel yang mencapai 160 juta, dinilai akan membantu Disney menghadirkan pengalaman produk yang baik untuk konsumen.
      "Itu alasan kami bekerja sama dengan Telkomsel, untuk memberikan pengalaman terbaik di Indonesia. Melalui skala ini dan populasi digital di Indoensia, kami harap konten berkualitas kami dan konten lokal akan menciptakan pengapalan produk yang unik," ujar Amit menjelaskan.
      Ekosistem Digital di Indonesia

       
      Direktur Marketing Telkomsel, Rachel Goh, menambahkan bahwa kerja sama ini sekaligus merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam membangun ekosistem digital di indonesia.
      Telkomsel telah membangun jaringan digital di seluruh Indonesia, dan saat ini tengah membangun platform digital untuk menghadirkan konten-konten berkualitas.
      "Telkomsel sudah memiliki jaringan yang bagus, konsumen yang banyak, dan yang terbaru adalah hiburan dengan menghadirkan konten. Dengan jaringan yang bagus, kami bisa memberikan konten-konten yang menghibur. Salah satunya melalui kerja sama dengan Disney," kata Rachel.
      "Kolaborasi bersama Disney Plus Hotstar ini merupakan kolaborasi yang bersifat inklusif, yang kami harapkan dapat mengakselerasi pertumbuhan ekosistem digital di Indonesia," ujar Rachel.
    • By ega
      Masih ingat ketika Quentin Beck (Jake Gyllenhaal) menipu Spider-Man (Tom Holland) tentang multiverse dalam Spider-Man: Far from Home?
      ''Hanya karena Quentin Back berbohong tentang multiverse, tidak berarti itu tak nyata,'' kata Scott Derrickson, sutradara Doctor Strange.
      Marvel Cinematic Universe membuktikannya dengan mengumumkan sekuel Doctor Strange yang berjudul Doctor Strange in the Multiverse of Madness.
      Benedict Cumberbatch kembali memerankan Doctor Strange. Film tersebut juga akan menampilkan Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) karena kejadian di dalam WandaVision (serial tentang Wanda Maximoff di Disney+) akan berkaitan besar dengan film ini.
      ''Dia akan menghadapi hal yang tidak terduga. Aku pikir, dia akan berada dalam posisi seperti penonton yang tidak tahu apa yang akan terjadi,'' kata Cumberbatch.
      Sementara itu, Derrickson yang juga kembali ke posisi sutradara menambahkan bahwa dirinya ingin membuat film ini menjadi film MCU yang paling menyeramkan. Film ini juga akan dibintangi Awkwafina.
    • Guest News
      By Guest News
      Thanos pertama kali diperkenalkan di Marvel Cinematic Universe pada post-credit film The Avengers. Kehadiran sang Mad Titan cukup menarik perhatian para penggemar Marvel karena dirinya memang dianggap sebagai penjahat nomor satu di semesta Marvel.
      Enam tahun berlalu, karakter yang diperankan oleh Josh Brolin ini akhirnya muncul dalam Avengers: Infinity War. Namun dalam debut filmnya itu ia terlihat berbeda. Kulit Thanos yang semula diwarnai ungu seketika menjadi coklat sedikit bercampur pink.
      Perubahan warna ini sempat menjadi sorotan ketika trailer pertama dirilis. Matt Aitken, supervisor visual effect Infinity War, akhirnya memberikan penjelasan mengapa warna kulit Thanos akhirnya diubah di dalam film garapan Anthony dan Joe Russo.

      “Adegan-adegan di film Guardians adalah di mana kami melihatnya dengan sangat jelas dalam film-film MCU sebelumnya, dan Itu adalah sebuah hal yang luar biasa, jadi kita tidak ingin membuatnya sama seperti itu,” ujar Aitken seperti dilansir Comicbook, Rabu (9/5/2018).
      Aitken menambahkan bahwa mengingat Thanos menjadi sosok sentral di Infinity War dan mengharuskan pengambilan gambar yang banyak, harus ada perubahan tampilan yang dilakukan. Akhirnya penampilannya pun dibuat lebih natural, sosok Thanos dibuat lebih detail dan bentuk wajahnya lebih dibuat alami.
      Ketika Thanos pertama kali muncul di tahun 2012, para penggemar Marvel dengan mudah mengenalinya karena penampilannya dengan warna kulit ungu mirip seperti apa yang ada di dalam komik Marvel. Namun pengembangan karakter membuat tim produksi berusaha membuat tampilan Thanos menjadi lebih realistis dengan kekuatan emosional yang lebih besar seperti di dalam Infinity War.
      Thanos mungkin bukan satu-satunya karakter MCU yang mengalami perubahan penampilan. Beberapa karakter juga mengalami hal sama, namun lebih kepada aspek kostum yang digunakan. Perubahan yang terjadi di dalam wajah Thanos menjadi salah satu perubahan paling drastis sepanjang sejarah MCU.

      “Sejak awal, Marvel sadar bahwa mereka butuh Thanos dengan versi yang lebih baik dan kami tidak pernah diminta untuk membuatnya sama seperti penampilan di versi awal,” ucapnya lagi.
      Avengers: Infinity War sendiri saat ini sedang tayang di bioskop-bioskop di hampir seluruh dunia. Setelah film ini, Marvel Studios sudah mempersiapkan Ant-Man and the Wasp yang rilis pada 6 Juli 2018, Captain Marvel pada tanggal 8 Maret 2019, dan Avengers 4 pada 3 Mei 2019. Sementara itu sekuel dari Spider-Man: Homecoming tayang pada 5 Juli 2019 dan Guardians of the Galaxy Vol. 3 menyusul di tahun 2020.
    • By paimin
      Kisah hidup mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau karib disapa Ahok saat masih remaja difilmkan. 

      Berjudul Anak HOKi, film ini dipoduseri oleh kakak Ahok, Harry Tjahaja Purnama. 

      Menurut Harry, film ini menceritakan sisi lain Ahok, bukan sebagai politikus maupun perceraiannya. 

      "Film ini dari awal tahun lalu sudah terinisiasi, jauh dari urusan politik. Film ini hanya entertain dan social value. Enggak ada sama sekali unsur politiknya," ungkap Harry Tjahaja Purnama usai jumpa pers di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (17/4). 

      "Inspirasinya karena banyak teman-teman bertanya, 'Ahok muda seperti apa sih?' dan teman-teman bilang, ya udah bikin yuk filmnya," imbuhnya. 

      Harry pun berharap film yang akan tayang Agustus mendatang ini tak hanya memenuhi rasa penasaran publik tentang masa muda Ahok, tetapi juga bisa menjadi hadiah untuk Ahok saat keluar dari penjara nanti. 

      "Ahok tahu kisah remajanya mau difilmkan, tapi dia tidak tahu detail. Pemain-pemainnya saja dia enggak tahu, saya harap bisa jadi hadiah pas dia bebas nanti," tandasnya. 

      Film Anak HOKi menggandeng Kenny Austin yang berperan sebagai Ahok muda. 

      https://www.instagram.com/filmanakhoki/
      Sumber: https://id.crowdvoice.com/posts/film-anak-hoki-bakal-jadi-kado-kebebasan-ahok-2Kuh

×
×
  • Create New...