Jump to content
Sign in to follow this  
anon

Wasit Diserbu, Hakim Garis Ditendang Habis Gitu Ditinju

Recommended Posts

ditinju.jpg

Kekacauan terjadi pada Pertandingan Liga Super Turki antara Trabzonspor vs Fenerbahce, Minggu (24/4/2016) waktu setempat. Pendukung Trabzonspor masuk ke lapangan dan menyerang wasit pada pertandingan tersebut.

Akibatnya pertadingan tersebut harus dihentikan pada menit 89. Fenerbahce yang bermarkas di Istanbul dan tengah berada pada urutan kedua dalam klasemen tengah memimpin 4-0 berkat gol-gol Alper Potuk, Volkan Sen, Nani dan Robin van Persie.

Setelah pendukung Trabzonspor menyerbu masuk lapangan, salah seorang dari pendukung itu mengambil kaki seorang hakim garis dan kemudian menendangnya serta meninjunya sampai kemudian petugas keamanan datang menyelamatkannya.

“Penggemar Trabzonspor membanjiri lapangan dan menyerang wasit. Pertandingan ditetapkan berakhir 4-0 untuk kemenangan Fenerbahce,” tulis Fenerbahce dalam Twitter.

“Setelah penggemar masuk lapangan dan memukuli hakim garis, wasit-wasit lainnya bergegas ke ruang ganti.”  Tidak ada komentar apa pun dari Trabzonspor.

Berikut video kerusuhan laga Trabzonspor vs Fenerbahce:

https://youtu.be/XfybHFpokyU

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By muh_obeje3

      Salah seorang hakim dari pengadilan New York, menolak perintah Departemen Kehakiman AS yang mengirimkan surat agar Apple membantu FBI untuk membuka enkripsi iPhone milik Syed Ridwan Farook, pelaku penembakan di San Bernardino.
      FBI meminta Apple dengan landasan  the All Writs Act, undang-undang yang telah dibuat sejak 200 tahun lalu. Namun, dengan tegas Hakim James Orenstien menolak perintah dari pemerintah tersebut.
      "Setelah meninjau fakta-fakta dalam catatan dan argumen dari berbagai para pihak, saya menyimpulkan bahwa tidak ada faktor-faktor tersebut membenarkan untuk memaksakan  Apple dalam kewajiban untuk membantu penyelidikan pemerintah terhadap kehendaknya," tulis Hakim Orenstein. "Karena itu saya menolak perintah."
      Dia juga berpendapat,"pertanyaan yang harus dijawab dalam hal ini dan orang lain di seluruh negeri ini adalah bukan soal pemerintah mampu memaksa Apple untuk membantu membuka perangkat tertentu.
      Namun soal surat perinta All Writs Act yang akan memutuskan masalah bagi banyak orang lainnya di kemudian hari."
      All Wirts Act adalah undang-undang yang kemudian disahkan menjadi hukum pada tahun 1789, yang memungkinkan pengadilan federal untuk mengeluarkan perintah yang memaksa pihak ketiga untuk bekerja sama dan membantu untuk perintah pengadilan lainnya.
      Kasus ini  bermula pada 2 Desember 2015 kemarin, Farook dan sang istri Tashfeen Malik yang merupakan warga AS keturunan Pakistan menembak mati 16 orang di fasilitas disabilitas di San Bernardino, California. Usai menembak, kedua orang itu melarikan diri dengan mobil namun akhirnya terbunuh dalam baku tembak dengan polisi.
      Hakim Sheri Pym dari pengadilan California meminta kepada Apple untuk membantu FBI agar membongkar kode enkripsi dari iPhone milik Farook tersebut. Karena, bila dipaksa dibongkar, maka data-data yang ada di ponsel tersebut akan rusak dengan sendirinya.
      Kemudian Apple mengajukan banding karena yang dipermasalahkan bukan membongkar iPhone semata, tapi Departemen Kehakiman dan FBI mencoba mencari kunci untuk membongkar privasi secara keseluruhan.
    • By abas
      Ketua FA, Greg Dyke, berharap penggunaan teknologi video segera diterapkan.
       
      Asosiasi Sepak Bola Inggris tertarik untuk menguji coba penggunaan rekaman video dalam pertandingan di Inggris, kata ketuanya.
       
      Greg Dyke menyatakan, "Saya ingin sekali melakukan uji coba itu di Inggris," katanya.
       
      Namun, katanya lagi, "FIFA dapat menghentikan kita dari uji coba tersebut."
       
      Asosiasi Sepak Bola Belanda, KNVB, sudah mengujicoba penggunaan tayangan ulang video untuk membantu wasit, dan menghendaki agar teknologi itu dipakai di pertandingan kompetisi.
       
      Namun pertemuan regulator sepak bola pekan ini memutuskan untuk menunda pelaksanaannya hingga 12 bulan ke depan.
       
      International Football Association Board (UFAB) yang merupakan pembuat peraturan tertinggi dalam sepak bola memutuskan untuk mempelajari lebih jauh penggunaan teknologi video.
       
      Kontroversi terakhir
       
      Dalam pertandingan Liga Primer Inggris akhir pekan lalu, kontroversi terjadi ketika pemain Sunderland, Wes Brown diusir wasit karena melanggar pemain Manchester United Radamel Falcao.
       

      Pemain Sunderland, Wes Brown, diberi kartu merah oleh Roger East, sementara televisi memperlihatkan pelanggaran dilakukan rekannya, John O'Shea.
       
      Gambar di televisi memperlihatkan pelanggaran itu dilakukan oleh rekan setim Brown, John O'Shea.
      Sekalipun demikian, badan perwasitan Inggris, Professional Game Match Officials Limited (PGMOL) mengeluarkan pernyataan yang mendukung keputusan wasit untuk mengusir Brown.
       
      Menanggapi insiden tersebut, Ketua FA menyatakan, "Jika Anda dapat membantu wasit dengan teknologi video, maka seharusnya hal itu dilakukan."
       
      Ia juga menyatakan, "Saya mengerti bahwa kita tak boleh tergesa melakukan perubahan, tetapi kita harus mulai melakukan uji coba untuk melihat apa yang bekerja dan apa yang tidak."
    • By RendyGunawan
      Setiap pemain bola profesional yang pernah ada di dunia ini pasti memimpikan untuk bisa bertanding di ajang Piala Dunia.
       
                 Walaupun Indonesia belum pernah berkesempatan ikut hadir di pesta empat tahunan tersebut, - dalam hal ini, dengan tidak mengindahkan keikutsertaan Tim Hindia Belanda yang pernah ikut di event tersebut, karena pada saat itu, nama Indonesia belumlah diakui sebegai negara yang merdeka -, namun untuk seorang wakil, kita sebelumnya sudah pernah mempunyai seorang duta di dalam ajang tersebut.
       
                   Tapi itu bukan berupa sebuah tim kesebelasan, melainkan seorang pengadil lapangan.
      Adalah Sofa Sumarsono, yang dalam sebuah pertandingan Piala Dunia U-20 1997 (World Youth Championship) di Malaysia menjadi seorang asisten wasit. Itu juga adalah untuk pertama kalinya Indonesia menyumbangkan seorang wasit untuk pertandingan di level Piala Dunia.
       
                    Pada saat itu, Sofa masuk sebagai suplai delapan asisten wasit tambahan yang dipilih dari berbagai negara Asia. Selain itu, Thailand, Singapura, Filipina, sampai Brunei Darussalam juga ikut mengirim.
       
                     Sofa sendiri, merupakan wasit yang malang-melintang di sepakbola Indonesia sejak 1990-an sampai 2000-an. Ia menapaki karir dari Divisi Utama hingga akhirnya jadi pilihan di Liga Super Indonesia (ISL).
       
                       Setelah Sofa Sumarsono, belum ada lagi wasit Indonesia yang dipercaya memimpin atau menjadi asisten di level Piala Dunia. Oleh karena itu, Komite Wasit PSSI pun coba meningkatkan kualitas para pengadil lapangan hijau Tanah Air agar bisa mengulang atau melebihi prestasi Sofa Sumarsono.
       
                    “Sudah cukup lama sejak 1997 Sofa Sumarsono, sekarang dia saja sudah pensiun dan jadi pengawas pertandingan. Makanya, kita ingin meningkatkan kualitas wasit-wasit kita,” terang anggota Komite Wasit, Jimmy Napitupulu dalam mengangankan harapannya.
       
          Dan inilah sosok Sofa Sumarsono yang sekarang, ia masih suka olahraga walaupun staminanya sudah tidak seperti dulu lagi.
       

       
       
      Sofa Sumarsono dengan sang istri
       
       

About Ngobas

Ngobas is All-in-One website that can be use by everyone for free to find friends and exchange information. The name Ngobas is derived from the abbreviation, which is Ngomong Bebas Originally Sedap, meaning that it is appropriate to speak according to the ethics of socializing.

CEO’s Greeting

I realize that information and communication are the main things in life. Ngobas is the right platform for that. We will always be connected wherever we are and that is the purpose Ngobas was built.

- Samuel Berrit Olam

×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy