Jump to content
Sign in to follow this  
keenion

Grab dan Uber Tak Bisa Lagi Atur Tarif dan Rekrut Sopir

Recommended Posts

grab.png

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengeluarkan Peraturan Menteri (PM) no 32 tahun 2016 yang salah satu isinya mengatur transportasi berbasis aplikasi online. Salah satu pasalnya menyebut, perusahaan aplikasi seperti Uber, Grab dan lainnya tak boleh menentukan tarif.

Dalam Bab IV soal Penyelenggaraan Angkutan Umum dengan Aplikasi Berbasis Teknologi Informasi, pasal 40 disebutkan perusahaan angkutan umum boleh atau dapat menggunakan aplikasi berbasis TI.

Sementara di pasal yang di poin 3 dituliskan bahwa perusahaan angkutan umum dapat bekerjasama dengan perusahaan aplikasi dan harus taat terhadap ketentuan di bidang informasi dan transaksi elektronik.

Di pasal 41 ayat 4 juga dituangkan bahwa perusahaan aplikasi transportasi harus melapor identitas perusahaan, akses monitoring operasional pelayanan data kendaraan dan pengemudi ke Direktur Jendral Kemenhub.

Nah, di pasal 41 ayat 2 perusahaan penyedia aplikasi berbasis IT tidak boleh berperan sebagai penyelenggara angkutan umum. 

Ini artinya seperti yang tertuang di ayat 3, tindakan penyelenggara angkutan umum terdiri dari:

  1. Menetapkan tarif dan memungut bayaran
  2. Merekrut pengemudi
  3. Menentukan besaran penghasilan pengemudi.

Sehingga dari penjelasan di atas bisa dimaksudkan bahwa Uber, Grab dan bahkan mungkin Go-Car (layanan milik Gojek), harus bekerjasama dengan perusahaan angkutan umum dan tidak boleh lagi merekrut secara langsung atau menentukan tarif perjalanan.

Ridzki Kramadibrata, Managing Director PT Grab Taxi Indonesia (CNN Indonesia/Trisno Heriyanto)
Tanggapan Grab

Melihat aturan yang baru saja diteken tersebut, pihak Grab langsung angkat bicara. Manager Director Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata mengatakan “Sebagai platform teknologi yang menghubungkan penumpang dan pengemudi, kami berkomitmen untuk memberikan yang terbaik untuk kepentingan para penumpang dan pengemudi, membawa  dampak positif terhadap masyarakat Jakarta, dan meningkatkan layanan transportasi di Jakarta."

Pihak Grab Indonesia pun mengaku masih mempelajari peraturan baru tersebut dan saat ini tetap merujuk peraturan yang lama dan memastikan semua mitra koperasi sesuai dengan arahan pemerintah.

"Kami saat ini masih mempelajari peraturan baru tersebut, Permenhub No. 32 Tahun 2016. Sebagai perusahaan entitas lokal yang selalu mematuhi aturan yang berlaku, kami akan selalu berusaha untuk memenuhi segala ketentuan dan aturan lokal yang berlaku, terutama terkait," kata Ridzki.

"Kami akan terus berkomunikasi secara aktif dengan seluruh pemangku kepentingan terkait, termasuk pemerintah, untuk memahami aturan baru ini dan untuk mencapai tujuan bersama, menyediakan layanan transportasi yang lebih aman dan nyaman bagi seluruh masyarakat Jakarta,” tandasnya.

Berikut aturan PM Kemenhub nomor 36 tahun 2016 khususnya yang mengatur soal aplikasi transportasi online:

Quote

 

BAB IV

PENYELENGGARAAN ANGKUTAN UMUM DENGAN APLIKASI

BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI

(1) Untuk meningkatkan kemudahan pemesanan pelayanan jasa angkutan orang tidak dalam trayek, Perusahaan Angkutan Umum dapat menggunakan aplikasi berbasis Teknologi Informasi.

(2) Untuk meningkatkan kemudahan pembayaran pelayanan jasa angkutan orang tidak dalam trayek, Perusahaan Angkutan Umum dapat melakukan pembayaran secara tunai atau menggunakan aplikasi berbasis Teknologi Informasi.

(3) Penggunaan aplikasi berbasis Teknologi Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat dilakukan secara mandiri atau bekerjasama dengan perusahaan/lembaga penyedia aplikasi berbasis Teknologi Informasi yang berbadan hukum Indonesia.

(4) Tata cara Penggunaan aplikasi berbasis Teknologi Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) wajib mengikuti ketentuan di bidang informasi dan transaksi elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan.

Pasal 41

(1) Perusahaan/Lembaga penyedia aplikasi berbasis Teknologi Informasi yang memfasilitasi dalam pemberian pelayanan angkutan orang wajib bekerjasama dengan Perusahaan Angkutan Umum yang telah memiliki izin penyelenggaraan angkutan.

(2) Perusahaan/Lembaga penyedia aplikasi berbasis Teknologi Informasi yang memfasilitasi dalam pemberian pelayanan angkutan orang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh bertindak sebagai penyelenggara angkutan umum.

(3) Tindakan sebagai penyelenggara angkutan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi kegiatan:

a.menetapkan tarif dan memungut bayaran;

b.merekrut pengemudi;dan

c.menentukan besaran penghasilan pengemudi.

(4) Perusahaan/Lembaga penyedia aplikasi berbasis Teknologi Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) wajib melaporkan kepada Direktur Jenderal meliputi:

a.profil perusahaan penyedia jasa aplikasi berbasis internet;

b.memberikan akses monitoring operasional pelayanan;

c.data seluruh perusahaan angkutan umum yang bekerjasama;

d.data seluruh kendaraan dan pengemudi;

e.layanan pelanggan berupa telepon, email, dan alamat kantor penyedia aplikasi berbasis Teknologi Informasi.

Pasal 42

Dalam hal Perusahaan/Lembaga penyedia aplikasi berbasis Teknologi Informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 melakukan usaha di bidang penyelenggaraan angkutan orang dengan kendaraan bermotor umum tidak dalam trayek, wajib mengikuti ketentuan di bidang pengusahaan angkutan umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21, Pasal 22, dan Pasal 23.

Sementara untuk Pasal 21, 22 dan 23 berikut isinya:

Pasal 21

(1) Untuk menyelenggarakan Angkutan Orang Tidak Dalam Trayek dengan Kendaraan Bermotor Umum, Perusahaan Angkutan Umum wajib memiliki izin penyelenggaraan angkutan orang tidak dalam trayek.

(2) Pemberian izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan biaya sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak.

Pasal 22

(1) Perusahaan Angkutan Umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) harus berbentuk badan hukum Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(2) Badan hukum Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk:

a.Badan usaha milik negara;

b.Badan usaha milik daerah;

c.Perseroan terbatas; atau

d.Koperasi.

Pasal 23

Untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1), Perusahaan Angkutan Umum wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. memiliki paling sedikit 5 (lima) kendaraan dengan dibuktikan dengan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) atas nama perusahaan dan surat tanda bukti lulus uji berkala kendaraan bermotor;

b. memiliki tempat penyimpanan kendaraan (pool); menyediakan fasilitas pemeliharaan kendaraan (bengkel) yang dibuktikan dengan dokumen kepemilikan atau perjanjian kerjasama dengan pihak lain;

d. mempekerjakan pengemudi yang memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) Umum sesuai golongan kendaraan.

 

 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By VOAIndonesia
      Otoritas angkutan massal di London yang dikenal sebagai Transport for London (TfL) mengatakan tidak memperbarui lisensi operasi untuk raksasa jasa angkutan yang dipesan secara online Uber karena masalah keselamatan dan keamanan.
      Uber mengatakan keputusan otoritas itu “luar biasa dan salah” dan perusahaannya akan mengajukan banding atas keputusan tersebut.
      Uber tetap diizinkan beroperasi di ibu kota Inggris itu selama proses banding.
      Kantor transportasi untuk London mengatakan dalam sebuah pernyataan Senin bahwa “Masalah utama yang diidentifikasi yaitu perubahan pada sistem Uber memungkinkan para pengemudi yang tidak sah untuk mengunggah foto-foto mereka ke akun pengemudi Uber lainnya dan hal itu memungkinkan mereka untuk mengambil penumpang seolah-olah mereka adalah pengemudi yang dipesan. Kemungkinan demikian membahayakan keselamatan dan keamanan penumpang. Ini berarti semua perjalanan dengan penumpang tidak diasuransikan dan sebagian perjalanan dilakukan dengan pengemudi yang tidak punya SIM, termasuk selah seorang pengemudi yang sebelumnya telah dicabut SIM-nya oleh TfL.”
      Transport untuk London mengatakan “saat ini tidak yakin bahwa Uber memiliki sistem yang kuat untuk melindungi keselamatan penumpang, sementara perusahaan itu melakukan berbagai perubahan pada aplikasinya.” [lt/ab]
    • By worldwidemarket
      Di era online transportation, hampir semua orang yang tinggal di kota besar mungkin sudah merasakan keuntungan memakai jasa ojek online.
      Di era online transportation, hampir semua orang yang tinggal di kota besar mungkin sudah merasakan keuntungan memakai jasa ojek online. Grab atau Gojek pasti ada atau bahkan keduanya dipastikan terdapat di gawai masing-masing.
      Grab sendiri adalah aplikasi penyedia transportasi berbasis online yang berasal dari Malaysia. Anthony Tan adalah pendiri sekaligus orang yang berjuang membesarkan Grab sampai se-Asia Tenggara.
      Anthony Tan merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara dan berasal dari keluarga konglomerat. Ayah Anthony merupakan salah satu orang terkaya di Malaysia, sementara Ibunya adalah pialang saham.
      Kakek Anthony sangat sukses di bisnis perakitan dan pengadaan kendaraan roda empat, bahkan sampai berafiliasi dengan Nissan. Intinya, Anthony lahir di lingkungan keluarga pebisnis.
      Marganya, Keluarga Tan mempunyai Motto “tidak pernah mengatakan tidak”. Bahkan ketika usianya 6 tahun Anthony bercita-cita menjadi pengusaha sukses. Dan umur 11 tahun Thony kecil menjalankan bisnis pertamanya, yaitu berjualan komik.
      Anthony menempuh studi di Harvard Business School Suatu hari sahabat sekelasnya menghampirinya dan mengeluh, “Mengapa sistem taxi di Malaysia buruk sekali? Kakek buyutmu supir taxi, dan kakekmu berhasil menjadi pengusaha transportasi sukses di Malaysia, seharusnya kau bisa melaksanakan sesuatu.”
      Pertanyaan ini terpatri dalam benak Anthony dan coba dipecahkan dalam sebuah tugas kuliah. Model bisnis ini kemudian direalisasikannya setelah mendapat gelar master pada 2011, dan menjadi Grab yang kita kenal sekarang.
    • By dugelo
      Layanan ojek online menjadi fenomena tersendiri dalam beberapa tahun terakhir. Pada awal kemunculannya, di 2011, Go-Jek sempat menjadi inisiator layanan ini.
      Walaupun sempat kesulitan untuk diterima konsumen, lambat laun layanan ini diterima masyarakat di 2015. Go-Jek menjadi pemain pertama yang dengan mudah diterima masyarakat.
      Sejak meledak di 2015, masyarakat berbondong-bondong ingin mendaftar menjadi driver. bahkan, pihak Go-Jek sempat kewalahan membendung animo masyarakat yang ingin menjadi driver mereka.
      keberhasilan Go-Jek mengubah peta industri transportasi membuat pemain lain tergoda. Grab (Malaysia), yang semula hanya bermain sebagai penyedia taksi, mulai meluncurkan Grab Bike yang menjadi pesaing Go-Jek hingga saat ini.
      Tak hanya pemain asing, beberapa pemain lokal juga ikut mencoba untuk terjun di model bisnis baru ini. Sebut saja, Blu-Jek yang juga hadir di September 2015.
      Pada saat itu, Founder Blu-Jek, Garrett kartono, mengatakan, Blu-Jek hadir tidak untuk mengekor layanan lainnya yang telah lebih dulu ada, melainkan membantu dan saling melengkapi layanan sejenis agar semakin banyak pilihan bagi konsumen untuk mendapatkan layanan terbaik.
      Selain itu, ladyJek muncul pada Oktober 2015 dengan menawarkan layanan berbeda. Mereka menggunakan driver khusus perempuan yang ditujukan untuk konsumen kaum hawa.
      Pada April 2016, raksasa ride-sharing asal Amerika Serikat, Uber, meluncurkan layanan ojek online di Jakarta. Tentu saja, dengan dukungan induk perusahaan, uber tidak kesulitan menawarkan tarif promo yang menggiurkan.
      Seiring dengan berjalannya waktu, kini hanya, Uber, Go-Jek, dan Grab, yang praktis terdengar suaranya. Beberapa sudah menutup layanannya, sementara lainnya mencoba terus bertahan dengan armada seadanya.
    • By Supraman
      Eggy Muhamad Juniardi (29) belum bisa melupakan peristiwa yang terjadi saat mobil Toyota Avanza yang dikendarainya dihentikan sekelompok orang lalu dirusak. Aksi itu terjadi saat massa menggelar sweeping terhadap taksi online di Jalan BKR, Kecamatan Regol, Kota Bandung, Jawa Barat, pada Kamis 9 Maret 2017.
      Sambil meneteskan air mata, Eggy menceritakan, saat itu ia sedang membawa keluarganya ke Purwakarta untuk menjemput adiknya yang sudah selesai melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sana. Di dalam mobil juga ada anaknya yang masih berusia 16 bulan.
      Tiba-tiba mobilnya diberhentikan sejumlah orang diduga sopir angkot. Karena diduga taksi online, Avanza milik Eggy pun jadi sasaran amukan warga. Peristiwa itu hampir berbarengan dengan demo para sopir angkot di Gedung Sate, Bandung, menolak kehadiran taksi online.
      Mereka dalam mobil hanya bisa pasrah dengan aksi brutal massa. Video kejadian itu pun akhirnya beredar di dunia maya dan menjadi viral di media sosial. Yang ikut jadi sorotan adalah anak Eggy yang masih bayi.
      ''Anak saya yang masih berumur 16 bulan masih trauma sampai saat ini,'' tutur Eggy saat ditemui di Mapolrestabes Bandung, Jumat (10/3/2017).
      Eggy menuturkan, sebelum kejadian, mobil Avanza yang dikemudikannya bergerak dari daerah Kopo menuju kantor kakaknya dulu sebelum ke Purwakarta.

      Konferensi pers soal perusakan mobil oleh massa di Bandung (CDB/Okezone)
      ''Saya mau ke kantor kakak dulu, di Jalan Gatot Subroto dengan melintas ke Jalan Sriwijaya,'' kata pria bertubuh gempal tersebut.
      Setibanya di lampu merah Jalan Sriwijaya, Eggy pun menghentikan kendaraannya saat rombongan angkutan kota sedang melintas untuk ikut berdemo ke Gedung Sate.
      Namun tiba-tiba dari rombongan tersebut terdengar teriakan ke arah mobil yang kendarain Eggy. ''Sopir online-sopir online,'' tutur Eggy menirukan para pelaku yang merusak mobilnya.
×
×
  • Create New...