Jump to content
kotawa

Kuli bangunan yang punya punya pabrik perakitan televisi

Recommended Posts

muhammad-kusrin-joko-widodo_20160126_083216.jpg

Muhammad Kusrin (42 tahun), perakit televisi tabung di Karanganyar, Jawa Tengah, beberapa pekan terakhir menjadi perbincangan di media sosial. Berita tentang penyitaan dan pemusnahan TV buatannya yang belum ber-SNI oleh Kejaksaan Negeri Karanganyar telah memicu petisi online di Change.org yang didukung hampir 30.000 tandatangan untuk Kusrin.

Ia hanya lulusan SD, tetapi dalam waktu empat tahun bisa mendirikan industri kecil TV Cathode Ray Tube (CRT) lokal berbasis tabung monitor komputer bekas dan mempekerjakan sedikitnya 30 orang.

Bagaimana ia membangun bisnis elektroniknya?

Merantau dan belajar otodidak

Kusrin lahir di Andong, Boyolali. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia mondok di sebuah pesantren di dekat rumahnya. Dua tahun kemudian ia mencoba merantau ke Jakarta, menjadi kuli bangunan di beberapa proyek.

Kegemarannya mengutak-atik perkakas eletronik sejak kecil tak pernah ia tinggalkan di waktu senggang. Selama di Jakarta, ia gemar berburu barang elektronik bekas di Jatinegara. Barang rusak dibelinya murah, lalu diperbaiki sendiri.

“Awalnya tak ada niat bisnis. Saya beli tape compo rusak Rp 80.000, setelah diperbaiki, suaranya jadi bagus. Teman saya malah tertarik dan membelinya Rp 200.000,” katanya mengenang.

Ia mengumpulkan upah sebagai buruh proyek selama lima tahun dan pulang ke kampung halaman. Alih-alih untuk modal usaha, Kusrin malah membuat pemancar radio amatir, jenis “mainan” anak-anak muda yang cukup populer tetapi mahal di era 80-an hingga 90-an awal.

Lewat komunikasi radio, ia menemukan komunitas hobi bongkar elektronik, tempat ia kemudian belajar tentang bedah perkakas listrik secara otodidak. Setelah mahir, Kusrin kemudian bekerja di tempat seorang kawannya di Solobaru, Sukoharjo, yang memproduksi TV tabung.

Sambil bekerja, Kusrin bereksperimen mengubah monitor komputer menjadi TV. Ia butuh waktu sekitar lima tahun hingga bisa menyempurnakan percobaannya, dengan metode trial and error.

Kusrin kemudian berhenti dan memutuskan membangun bisnis sendiri meskipun belum tahu apa yang ingin ia kerjakan. Di saat yang sama, seorang kawan lainnya menawarkan usaha TV rakitan yang hampir tutup. Tanpa pikir panjang, ia masuk dan melanjutkan usaha itu.

Kusrin menguasai teknik perakitan TV tabung, tetapi ia masih awam soal bisnis. Uang Rp 200 juta yang ia tanam habis dalam setahun karena mewarisi manajemen yang korup. Usaha bangkrut, dan hanya menyisakan 127 unit alat produksi senilai Rp 17 juta. Pabrik tutup total.

“Saya hanya mewarisi hutang di perusahaan itu, uang habis untuk bayar. Ditambah banyak karyawannya tidak jujur,” katanya.

Mendirikan usaha sendiri

Industri perakitan TV tabung milik Kusrin kembali bangkit setelah dibekap kasus hukum sejak Mei 2015. Foto oleh Ari Susanto/Rappler

Seperti orang yang kalah bertaruh, Kusrin merugi. Namun, ia tidak menyerah.

Pada 2011, ia mengajukan perizinan ke kabupaten dan provinsi untuk mendirikan industri TV rakitan baru. Usaha perakitan TV tabung milik Kusrin perlahan bangkit lagi dengan bendera UD Haris Elektronik bermodalkan peralatan yang tersisa.

Kusrin hanya mempekerjakan satu orang yang membantunya merakit TV. Ia memproduksi tiga merek TV; yaitu Maxreen, Veloz, dan Zener, dengan varian 14 dan 17 inci.

Ia memasarkan sendiri TV tabung produksinya ke Solo dan sekitarnya dengan harga Rp 400.000 dan Rp 550.000. Kusrin tetap memegang prinsip kejujuran dalam bisnisnya.

"Di kardus kami menulisnya TV CRT rekondisi, karena kami memakai monitor bekas untuk tabung meskipun semua komponen elektronik lainnya baru," katanya.

Di tangan Kusrin, monitor bekas bisa “disulap” menjadi layar TV kinclong seperti baru, apalagi dibungkus dengan case baru. Alasan ia menggunakan tabung monitor bekas selain harga murah adalah kualitas dan ketahanannya lebih baik dari tabung TV bekas.

Kusrin memastikan monitor yang ia pakai kondisinya di atas 85 persen. Ia berani memberikan garansi setahun tukar baru untuk semua toko pelanggannya.

Layanan purna jual dan harga yang murah membuat permintaan toko semakin besar dari tahun ke tahun. Berapa pun produksinya, TV buatan Kusrin selalu diserap pasar. Karyawannya pun bertambah jumlahnya, dari satu orang menjadi 12 orang pada 2012, dan berlipat lagi hingga 30 orang pada 2015.

Dalam sehari, Kusrin mampu memproduksi 150 unit TV, atau 4.000 hingga 5.000 unit per bulan. Jangkauan pasar pun meluas – Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan sebagian kecil Jawa Barat.

"Kami jual TV setiap hari, karena gudang tidak cukup menyimpan stok," kata Kusrin.

Usahanya berkembang pesat, hingga ia bisa membeli tanah untuk pabrik di Jatikuwung, Gondangrejo, Karanganyar, dan dua buah truk boks sebagai armada bisnisnya. Demi tuntutan bisnisnya, Kusrin mati-matian belajar komputer dan Internet, hal yang asing baginya.

“Saya beli laptop dan saya belajar sendiri dua hari, dua malam. Meski tak sekolah, saya harus bisa mengetik, membuat laporan keuangan, mengirim email, dan sebagainya,” katanya.

Jeratan hukum

kyldieupxnvxdxe-800x450-nopad_B6BF49EF73704F73988153B5AAFFA964.jpg
DIHANCURKAN. Televisi produksi Muhammad Kusrin sempat dihancurkan lantaran tidak bersertifikat SNI. Foto dari situs Change.org

Kusrin mengajukan kredit suntikan modal dari bank Rp 500 juta untuk mengejar volume produksi. Tetapi ketika bisnisnya sedang berjaya, pada Mei 2015, pabrik perakitan TV milik Kusrin digerebek aparat Polda Jawa Tengah karena menerima laporan bahwa produk elektronik itu belum memiliki SNI.

Sebanyak 255 TV di gudang diangkut polisi bersama seribu tabung dan peralatan produksinya sebagai barang bukti. Bisnis Kusrin dalam sekejap sekarat, namun tidak mati.

“Rasanya usaha saya empat tahun, seperti habis dalam sehari. TV buatan saya bukan barang curian, bukan hasil kejahatan, semua saya beli pakai uang sendiri, izin ada, tapi kok ditahan,” katanya.

“Saya dipenjara ndak apa-apa, tapi tolong hidupi anak-istri saya dan 30 karyawan saya yang menganggur,” begitu permintaannya pada polisi yang memeriksanya.

Kusrin tidak tahu bahwa Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah syarat wajib bagi produk TV tabung buatannya. Seorang pejabat polisi yang bersimpati kemudian membantu mencarikannya jalur mengurus SNI melalui ke Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) Surabaya dan Balai Besar Barang dan Bahan Teknik (B4T) Bandung, tetapi semua prosedur harus ditempuh sendiri oleh Kusrin.

Ia pun berjanji untuk memenuhi persyaratan SNI. Namun, kasus sudah terlanjur dilimpahkan ke kejaksaan, dan penghancuran barang bukti tidak terelakkan. Beruntungnya, putusan pengadilan mengembalikan 75 persen barang sitaan, dan hanya menghancurkan 25 persen, serta menjatuhkan hukuman enam bulan penjara dengan masa percobaan.

“Di foto-foto yang beredar itu, TV yang dibakar hanya 6 atau 7 saja secara simbolis. Sebagian besar digilas hancur dengan stom,” katanya.

Pengajuan sertifikasi Organisasi Standar Internasional (ISO) dan SNI memakan waktu lama dan menghabiskan biaya dan energi. Sejak mengajukan pada Mei 2015, Kusrin baru bisa mengantongi SNI pada 15 Januari 2016.

Meskipun pengurusan kedua sertifikasi itu tidak terlalu mahal, kenyataannya Kusrin menghabiskan hampir Rp 200 juta, karena harus membiayai transportasi dan akomodasi petugas penguji produk dari luar kota selama beberapa kali.

Kas perusahaannya menipis untuk mengurus sertifikat dan membayar upah karyawannya setiap bulan. Meskipun selama sembilan bulan tidak berproduksi dan hanya menerima servis TV yang rusak, Kusrin tidak tega merumahkan pegawainya.

Berjuang sendiri

Merek TV buatan Kusrin yang sudah mendapat SNI. Foto oleh Ari Susanto/Rappler

Jeratan hukum terhadap Kusrin ini memantik simpati netizen sejak dua pekan lalu. Banyak yang mencemooh penegak hukum karena terlalu sadis membunuh kreativitas anak bangsa. Setelah muncul petisi online, ramai-ramai para pejabat ikut menunjukkan simpati dan janjinya membantu Kusrin.

Namun, Kusrin sudah terlanjur berusaha sendiri, mengurus segala perizinan sendiri, dengan uang dan tenaga sendiri, serta menghadapi kasus hukum sendiri. Ia tidak tidak terlalu ambil pusing dengan banyaknya janji, karena yang penting baginya adalah kasusnya selesai dan SNI segera keluar, sehingga bisa memulai berproduksi lagi.

Kasusnya yang meledak di media sosial mendapat sorotan Menteri Perindustrian Saleh Husin. Ia sendiri yang menyerahkan setifikat SNI kepada Kusrin di Jakarta, pada 19 Januari kemarin.

“Sekarang saya mulai berusaha untuk bangkit lagi. Produksi belum banyak, hanya 40-50 unit sehari,” ujar Kusrin.

Kusrin bercita-cita ingin membuat pabrik TV dengan komponen rakitan dan casesendiri, sehingga bisa menekan harga jual, dan mampu bersaing dengan produk impor dari Tiongkok. Jika terwujud, usahanya akan menyerap 500-1.000 orang tenaga kerja.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By abas

      Salah satu pendiri Apple, Steve Jobs, pernah mengatakan bahwa televisi bukan bisnis yang bagus dan Apple tak akan bermain di pasar tersebut. Hal tersebut dikatakan oleh Jobs pada rapat terbatas setelah ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO Apple.
      "Tidak," kata Jobs keras di dalam rapat tertutup yang diadakan di wilayah terpencil, dan peserta rapat tak ada yang boleh mengirim email dari perangkatnya. 
      "TV adalah bisnis yang buruk. Itu tidak menjual dan marjinnya buruk," kata Jobs seperti ditulis oleh reporter Wall Street Journal, Yukari Iwatani Kane, dalam buku berjudul 'Haunted Empire: Apple After Steve Jobs'.
      Rapat tersebut diberi tajuk Top 100 Gathering. Yang diikuti oleh 100 orang yang terdiri dari eksekutif, manajer, dan karyawan terpilih berkinerja baik. Dan di rapat tersebut Jobs mendapat pertanyaan mengenai kemungkinan Apple memproduksi televisi berlayar HD.
      Namun demikian, beberapa tahun belakangan Apple dirumorkan tengah mengerjakan produk televisi. Yang disebut-sebut Apple TV dan iTV. 
      Terlepas benar tidaknya rumor tersebut, berdasarkan bantahan Steve Jobs terhadap produk televisi dari Apple, bisa jadi ini menjadi bantahan atas isu produk televisi dari Apple.
    • By c0d1ng

      Anak-anak kadang tidak terbiasa dengan tayangan berita. Malah ada juga yang beranggapan berita itu adalah bagian paling membosankan di televisi. Tapi sebenarnya, apakah berita itu aman disaksikan anak-anak? 
      Menurut penelitian, anak-anak menganggap bahwa berita lebih menyeramkan daripada adegan kekerasan yang ada di acara TV maupun film. Kok begitu? 
      Jadi, sebuah penelitian mencoba memperlihatkan gambar kekerasan seperti peperangan, penembakan, kebakaran, kecelakaan pesawat, dan lain-lain kepada 600 anak berusia 8 sampai 12 tahun. 
      Sebagian anak mendeskripsikan gambar tersebut sebagai berita dan sebagian lagi mendeskripsikannya sebagai kejadian fiksi. 
      Brad Bushman, professor of psychology and communication di University of Michigan mengatakan, “Kami menemukan bahwa anak-anak yang melihatnya sebagai kejadian nyata menunjukkan respons ketakutan yang signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang melihatnya sebagai kejadian fiksi.” 
      Menurut Bushman orangtua seringkali menyepelekan bahaya anak nonton berita padahal hal tersebut dapat menyebabkan kecemasan dan masalah lain, seperti anak menjadi sulit tidur. 
      Ada juga penelitian di Wisconsin yang mendapati bahwa 37 persen anak usia 8-12 tahun lebih takut terhadap cerita dalam berita. Hal ini dikarenakan semakin dewasanya anak-anak maka akan semakin besar juga respons anak-anak terhadap kekerasan yang ada di berita. 
      Banyak ahli yang menyarankan untuk menjauhkan anak usia 6 tahun ke bawah dari berita. Untuk menonton berita lebih disarankan untuk menunggu anak hingga usia 8-10 tahun. Tapi orangtua harus tetap memperhatikan setiap respons anak.
      Jadi pada usia ini orangtua juga masih harus memantau dan mengawasi berita yang anak tonton, serta harus dapat memberikan penjelasan mengenai pertanyaan ataupun kecemasan yang mungkin timbul dalam dirinya. 
      Jane Katch, seorang ahli perkembangan anak, mengatakan bahwa tanda-tanda dari seorang anak siap terhadap berita adalah pada saat anak mulai bertanya mengenai berita yang ia dengar di sekolah ataupun langsung meminta untuk menonton berita di rumah. 
      Hal-hal tersebut merupakan tanda bahwa anak anda telah siap untuk menghadapi berita dengan exposure yang terbatas. 
      Jadi, anak-anak usia prasekolah lebih baik dijauhkan dari berita untuk mencegah kebingungan mengenai fantasi dan rasa takut. Apabila mereka secara tidak sengaja mengetahui berita yang ada, berilah penjelasan yang dapat menumbuhkan rasa aman pada diri mereka. 
      Lalu, untuk anak usia sekolah yaitu 8 tahun ke atas, boleh saja menyaksikan berita namun harus masih dibantu penjelasan dari orangtua serta pengawasan orangtua. Untuk usia remaja biasanya mereka sudah lebih menyadari berita yang ada. 
      Namun cobalah untuk diskusi dengan anak remaja anda untuk mengetahui perspektif mereka mengenai sebuah peristiwa dan juga membenarkan apabila ada respons yang salah dari diri mereka. 
      Intinya, berapapun umur anak anda, jangan pernah anda mengabaikan respons mereka mengenai peristiwa yang ada di berita. Karena berita bahkan terkadang sulit untuk dimengerti oleh orang dewasa, apalagi mereka yang masih dalam proses untuk mengerti dunia.
    • By panji_ukbar

      Anak-anak kadang tidak terbiasa dengan tayangan berita. Malah ada juga yang beranggapan berita itu adalah bagian paling membosankan di televisi. Tapi sebenarnya, apakah berita itu aman disaksikan anak-anak? 
      Menurut penelitian, anak-anak menganggap bahwa berita lebih menyeramkan daripada adegan kekerasan yang ada di acara TV maupun film. Kok begitu? 
      Jadi, sebuah penelitian mencoba memperlihatkan gambar kekerasan seperti peperangan, penembakan, kebakaran, kecelakaan pesawat, dan lain-lain kepada 600 anak berusia 8 sampai 12 tahun. 
      Sebagian anak mendeskripsikan gambar tersebut sebagai berita dan sebagian lagi mendeskripsikannya sebagai kejadian fiksi. 
      Brad Bushman, professor of psychology and communication di University of Michigan mengatakan, “Kami menemukan bahwa anak-anak yang melihatnya sebagai kejadian nyata menunjukkan respons ketakutan yang signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang melihatnya sebagai kejadian fiksi.” 
      Menurut Bushman orangtua seringkali menyepelekan bahaya anak nonton berita padahal hal tersebut dapat menyebabkan kecemasan dan masalah lain, seperti anak menjadi sulit tidur. 
      Ada juga penelitian di Wisconsin yang mendapati bahwa 37 persen anak usia 8-12 tahun lebih takut terhadap cerita dalam berita. Hal ini dikarenakan semakin dewasanya anak-anak maka akan semakin besar juga respons anak-anak terhadap kekerasan yang ada di berita. 
      Banyak ahli yang menyarankan untuk menjauhkan anak usia 6 tahun ke bawah dari berita. Untuk menonton berita lebih disarankan untuk menunggu anak hingga usia 8-10 tahun. Tapi orangtua harus tetap memperhatikan setiap respons anak.
      Jadi pada usia ini orangtua juga masih harus memantau dan mengawasi berita yang anak tonton, serta harus dapat memberikan penjelasan mengenai pertanyaan ataupun kecemasan yang mungkin timbul dalam dirinya. 
      Jane Katch, seorang ahli perkembangan anak, mengatakan bahwa tanda-tanda dari seorang anak siap terhadap berita adalah pada saat anak mulai bertanya mengenai berita yang ia dengar di sekolah ataupun langsung meminta untuk menonton berita di rumah. 
      Hal-hal tersebut merupakan tanda bahwa anak anda telah siap untuk menghadapi berita dengan exposure yang terbatas. 
      Jadi, anak-anak usia prasekolah lebih baik dijauhkan dari berita untuk mencegah kebingungan mengenai fantasi dan rasa takut. Apabila mereka secara tidak sengaja mengetahui berita yang ada, berilah penjelasan yang dapat menumbuhkan rasa aman pada diri mereka. 
      Lalu, untuk anak usia sekolah yaitu 8 tahun ke atas, boleh saja menyaksikan berita namun harus masih dibantu penjelasan dari orangtua serta pengawasan orangtua. Untuk usia remaja biasanya mereka sudah lebih menyadari berita yang ada. 
      Namun cobalah untuk diskusi dengan anak remaja anda untuk mengetahui perspektif mereka mengenai sebuah peristiwa dan juga membenarkan apabila ada respons yang salah dari diri mereka. 
      Intinya, berapapun umur anak anda, jangan pernah anda mengabaikan respons mereka mengenai peristiwa yang ada di berita. Karena berita bahkan terkadang sulit untuk dimengerti oleh orang dewasa, apalagi mereka yang masih dalam proses untuk mengerti dunia.
    • By BincangEdukasi
      Memang Xiaomi terkenal untuk ponselnya tapi mereka bukan perusahaan yang berhenti begitu saja, mereka juga meluncurkan produk-produk elektronik lain yang dibutuhkan termasuk TV.
      Xiaomi memang pernah meluncurkan TV namun kali ini mereka melakukan inovasi terbaru dengan meluncurkan produk terbarunya MI TV 2S sebuah TV pintar resolusi berukuran 48 inci yang mampu menampilkan resolusi 4K dengan bodi frame aluminium super tipis yang tipisnya hampir sama dengan ponsel Mi 4 di mana TV ini memiliki tebal hanya 9.9 mm saja. Coba lihat presiden Xiaomi yang mendemokan ketipisan TV baru kebanggaannya di bawah ini.

      TV ini pun menggunakan sistem operasi Android Lollipop 5.0 dan hardware yang mumpuni yang menggunakan prosesor ARM MStar 6A928 dan RAM 2GB.
      Bahkan TV ini juga menawarkan pilihan warna menarik seperti gambar berikut yang beberapa tidak lazim untuk warna TV, jadi mungkin Xiaomi terinspirasi membawa piihan warna casing ponsel mereka yang laris ke TV juga

      Spesifikasi MI TV 2S:
      48″ 4K display frame aluminium dengan tebal 9.9mm Newly-designed power plug MStar 6A928 CPU Tersedia dalam 5 warna Harga 483 USD atau sekitar 6 jutaan rupiah saja dan 645 USD untuk versi teater yang lebih lengkap Akan tersedia mulai 22 Juli
    • By qbonk
      Mewakili penggemar film akut, yang juga penonton (terpaksa setia) televisi, saya makin gelisah. Kegelian, eh, kegelisahan ini tentunya juga dirasakan para pecandu film dan tayangan televisi lainnya. Lha gimana, kegemaranfetishisme visual saya semakin lama semakin dikebiri secara sistematis.
      Sekarang ini, susah banget nonton belahan tetek di layar kaca. Bahkan belahan tetek film kartun aja di-blur. Jangan-jangan nanti hewan-hewan di acara dokumenter juga diblur gara-gara pamer aurat? Apalagi iklan susu sapi—yang teteknya banyak?
      Jujur aja sih, selalu ada sensasi tersendiri kalau nonton aurat di televisi. (Meskipun udah punya donlotan JAV)
      Meski begitu, saya mencoba mencari hikmah di balik brutalnya pem-bluran tayangan itu. Saya maklum jika KPI berusaha melindungi moral generasi muda.
      Anak-anak emang belum boleh lihat gituan. Kalau tidak di-blur, anak-anak nanti jadi bisa lihat barang jorok. Sedangkan kalau di-blur, paling tidak imajinasi anak akan terlatih. Nah, katanya kan imajinasi lebih penting daripada pengetahuan?
      Selain itu, saya melihat ada peluang industri kreatif di sini.
      Maraknya pem-bluran aurat, akan memberi lapangan pekerjaan baru bagi pekerja editing televisi. Saya usul, sebaiknya mereka dibayar per pixel. Mustinya serikat editor video untuk televisi (segera bikin, gih!) berani menyuarakan tuntutan itu.
      Tapi, bikin blur sebuah gambar sih terlalu gampang dan kurang nyeni. Saya malah mikir gimana kalo merekrut animator 3D? 3D atau CGI (Computer Graphic Imagery) yang sudah menjadi teknik yang lazim di dunia industri film dan video. Kalian tahu film Iron Man? Itu kebanyakan efeknya pakai CGI. Saya bahkan curiga, belahan teteknya Scarlett Johansson juga hasil CGI. Bikin teteknya Hulk yang gede dan ijo aja bisa, masak buat Scarlett Johansson gak bisa?
      Nah, animator CGI inilah nanti yang sebaiknya direkrut untuk bikin animasi baju, hijab atau apapun yang bisa nutup aurat. Kalo di-blur gitu kan nanggung.
      Dengan demikian, animator CGI berbakat kita nggak perlu lari ke luar negeri. Apalagi kalau sampai mereka menggarap film-film Hollywood yang sama sekali nggak mengusung nilai-nilai kesantunan Pancasila dan UUD 45.
      Dan malahan, kalau kita menerapkan de-auratisasi lewat CGI tadi, film-film olahraga Maria Ozawa bisa tayang di televisi. (Horeeee… Dengkulmu!). Tentu saja suara desahannya nanti harus di-dubbing, diganti dengan ucapan-ucapan yang jauh lebih bermoral, misalnya: Oh, yes, Mojok media fitnah, oh, no, Mojok media zionis.
      Anda pikir saya lebay dan konyol? FYI, konsep usulan saya ini sudah ada sejak zaman baheula, tahun 80-an. Dulu komik-komik Jepang yang (secara ilegal) diterbitkan di sini, selalu dicorat-coret ulang oleh tim penerbitnya untuk menutupi aurat tertentu. Sekarang, kenapa nggak kita terapkan cara ini untuk tayangan-tayangan televisi?
      Tidak hanya untuk kasus belahan tetek, teknik ini bisa juga diterapkan untuk adegan merokok, menodong, menjambak dan lain-lain. Kita bisa menggantinya dengan animasi CGI yang lebih bermoral. Misalnya orang merokok diganti animasi ngemut permen, menodongkan pistol diganti dengan animasi menyodorkan kopi (kopi belum dilarang, kan?).
      Belahan tetek juga bisa diganti belahan ketiak cowok, misalnya… (Ketiak cowok bukan aurat, kan?)
      Ini akan menyerap banyak tenaga kerja kreatif terutama lulusan Desain Komunikasi Visual, Pertelevisian dan Film serta Animasi.
      Tentu saja semua itu perlu sinergi yang kuat dengan KPI. Karena merekalah yang mengendalikan banyaknya blur di layar kaca kita. Come on, Guys! Dukungan terhadap industri kreatif ini salah satu janji kampanye Pak Jokowi yang paling sering diulang-ulang. Maka inilah saatnya mengaih janji.
      Bayangkan! Kalau ini sukses, tenaga pembluran kita bisa diekspor ke negara-negara yang sensornya ketat macam Malaysia, Arab Saudi, Cina dan lain-lain. (Di sana belahan tetek dilarang nggak, sih?)
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy