Jump to content
  • Popular Contributors

  • Our picks

    • Kartu SIM Card ada celah keamanan nya
      Celah keamanan dalam kartu SIM disebut mengancam lebih dari satu miliar ponsel. Celah keamanan ini disebut dengan Simjacker.
      • 0 replies
    • Telegram Sindir Whatsapp
      WhatsApp dan Telegram adalah dua aplikasi pesan yang populer saat ini. Bahkan, bisa dibilang mereka sedang saling bersaing untuk mendapatkan jumlah pengguna lebih banyak.

      Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam hal fitur yang dihadirkan. Tapi, ada hal yang unik terkait fitur mereka. Telegram secara terang-terangan menyindir fitur transfer file yang dimiliki WhatsApp.
      • 4 replies
    • Pernah Menang Lotre Rp. 33 Miliyar Wanita Inggris Ini Kini Jatuh Miskin
      Seorang perempuan Inggris menceritakan kisahnya sempat menjadi seorang miliarder di usia muda setelah memenangkan lotre bernilai miliaran namun kini jatuh miskin.

      Callie Rogers, asal Cumbria, Inggris, pernah memenangkan hadiah lotre pada 2003 lalu, saat dia masih berusia 16 tahun.

      Ketika itu Callie memenangkan lotre senilai hampir 1,9 juta poundsterling (setara Rp 33 miliar untuk kurs saat ini). Berkat hadiah lotre itu, Callie pernah menjadi jutawan termuda di Inggris.
      • 0 replies
    • Malam ini, gw akan bercerita sebuah cerita dari seseorang, yang menurut gw spesial. kenapa?

      karena gw sedikit gak yakin bakal bisa menceritakan setiap detail apa yang beliau alami,

      sebuah cerita tentang pengalaman beliau selama KKN, di sebuah desa penari.

      sebelum gw memulai semuanya. gw sedikit mau menyampaikan beberapa hal.
      • 0 replies
    • Kesuksesan Jobs dengan Apple nya dunia sudah gak meragukan lagi, makanya gak sungkan-sungkan dunia menyematkan gelar "Bapak Revolusi Digital" pada Steve Jobs.
      • 1 reply
BincangEdukasi

Pro Kontra Tentang Pendidikan Seks di Sekolah

Recommended Posts

Pendidikan seks di sekolah-sekolah sedang diberikan untuk memberi informasi siswa tentang masalah yang berkaitan dengan seks. Hal ini dianggap penting bagi masyarakat bahwa siswa memahami informasi yang tepat tentang seks, praktek seksual, pelecehan seksual anak dan penyakit menular seksual. Namun, seperti semua ideologi, pendidikan seks di sekolah juga memiliki pro dan kontra.

Pro Pendidikan Seks di Sekolah mempunyai pandangan;

  1. Pendidikan seks di sekolah-sekolah dapat membantu anak memahami dampak dari seks dalam kehidupan mereka. Hubungan seks bebas dapat diatasi dengan memberi dan memperluas cakrawala mereka tentang bahayanya.
  2. Hal ini juga dapat menjawab semua pertanyaan yang ada dibenak mereka tentang tubuh mereka yang berubah dan lonjakan hormonal.
  3. Anak-anak sering ingin tahu tentang jenis kelamin lawan jenis. Pendidikan seks di sekolah dapat membantu memberi pemahaman perbedaan dan menjaga keinginan untuk mengeksplorasi hal-hal untuk diri mereka sendiri.
  4. Pelecehan seksual terhadap anak adalah kejahatan sosial yang melanda ribuan anak di seluruh dunia. Pendidikan seks di sekolah dapat berperan aktif dalam mengendalikan peristiwa penganiayaan ini.
  5. Adalah jauh lebih baik untuk mengajarkan anak tentang seks di sekolah, bukan membiarkan mereka menggunakan sumber lain seperti materi pornografi dari internet. Hal ini penting karena sumber seperti internet memiliki sejumlah informasi yang mungkin menyesatkan dan menyebabkan informasi yang salah.
  6. Dengan masalah seperti kehamilan remaja dan penularan penyakit yang meningkat, dapat menyadarkan anak dari bahaya ini.
  7. Pendidikan seks di sekolah adalah wadah mengubah anak menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, pendidikan seks bisa membantu mereka memahami manfaat pantang seks bebas setidaknya menjadi anak yang lebih bertanggung jawab.

Kontra Pendidikan Seks di Sekolah:

  1. Besar kemungkinan informasi yang diterima siswa pada usia dini tidak seperti yang diharapkan, artinya pemahaman mereka justru ke arah yang salah.
  2. Jika tidak diajarkan dengan benar, pendidikan seks di sekolah dapat menjadi masalah ejekan dan menjadi sesuatu yang selalu mengalihkan perhatian seluruh kelas ketika diajarkan.
  3. Fakta bahwa sebagian besar sekolah dalam pendidikan seks memperlakukan hal ini seperti kursus ekstrakurikuler dan bukan yang utama juga merupakan kontra utama.
  4. Sebagian besar guru yang diberi tugas untuk mengajar pendidikan seks untuk siswa tidak ahli dan tidak memiliki ide jelas tentang pendidikan seks itu sendiri. Hal ini bahkan lebih berbahaya karena informasi yang salah ini sangat mematikan.
  5. Pendidikan seks di sekolah mungkin bertentangan dengan ideologi keagamaan yang juga dianut di rumah anak. Ini menyebabkan perbedaan masalah mendasar ketika anak di rumah dan di sekolah, sementara seharusnya sekolah adalah rumah kedua mereka.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By MariaAngeline
      Pembicaraan mengenai sex masih tabu di kalangan masyarakat Indonesia, namun di zaman sekarang ini rasanya pendidikan sex perlu diperkenalkan lebih dini kepada anak. Sex education yang mendidik tentu tidak akan mencederai apa yang seharusnya dijaga dan dipertahankan, bukan malah mengarahkan untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma agama, sosial, dan kesusilaan. Sebagai orangtua, kita perlu mewaspadai hal-hal yang sekiranya dapat mempengaruhi pergaulan anak-anak, tidak hanya itu bahan bacaan seperti buku pun patut menjadi perhatian.

      Buku berjudul “Saatnya Aku Belajar Pacaran” karya Toge Aprilianto yang akhir-akhir ini menuai kontroversi di dunia maya, adalah salah satu contoh sumber media yang perlu diwaspadai. Isinya yang seolah mengajak anak remaja berhubungan intim banyak menuai kecaman. Bebagai media kini semakin terbuka dalam mempengaruhi pemahaman anak mengenai pendidikan sex yang akhirnya banyak menyimpang. Disinilah sebagai orangtua kita perlu mengetahui dan memahami kapan sex education diperkenalkan kepada anak dengan tepat sesuai usianya.
      Usia 5 tahun ke bawah
      Pertama, mungkin kita akan merasa kebingungan bagaimana caranya menyampaikan pendidikan seks pada seorang balita yang berusia 5 tahun, kenyataannya mungkin Anda bisa melewati tahap ini dengan mudah. Pada rentang usia ini, Anda bisa memulai pendidikan seks dengan memperkenalkan organ tubuh dan fungsinya masing-maisng. Tidak perlu merasa bingung dan ragu saat Anda harus memperkenalkan alat kelaminnya, waktu yang tepat akan menghilangkan ketidaknyamanan Anda saat memperkenalkan organ vitalnya. Seperti saat anak sedang dimandikan atau saat Anda memakaikan pakaiannya. Dalam hal ini Anda tidak perlu membahasnya hingga terlalu detail atau mengajarkannya dalam keadaan yang serius, cara ini diharapkan bisa menghindari penyebutan yang dianggap tidak sopan dengan menyebut alat kelamin yang dimilikinya saat berada di lingkungan sosial masyarakat.
      Selain memperkenalkan organ vitalnya, Anda juga bisa mengajarkan mengenai jenis kelamin antara perempuan dan laki-laki dan apa perbedaannya. Mengajarkan anak tentang hak dan kewajibannya untuk menjaga milik pribadinya juga sangatlah penting, termasuk alat vitalnya. Beritahukan bahwa mereka tidak boleh menunjukkan alat kelaminnya secara sembarang tempat dan orang yang bukan muhrimnya. Hal ini untuk menghindari pelecehan seksual yang banyak mengincar anak-anak di sekitar kita.
      Jika anak mencoba menolak dicium atau dipeluk orang lain, hargai keputusannya. Mereka memiliki hak untuk menolak segala macam bentuk kasih sayang dari orang lain yang mungkin membuatnya merasa tidak nyaman, jangan memaksakan mereka untuk melakukannya meskipun hanya sebagai bentuk penghargaan. Hal ini juga bisa menjadi kesempatan untuk mereka belajar penolakan.
      Usia 6-9 tahun
      Pada usia ini, orangtua perlu memperhatikan banyak hal. Setiap anak baik perempuan maupun laki-laki memiliki minat berbeda terhadap seks, ada yang masa bodoh tidak ingin tahu, merasa terganggu dengan pembicaraan sex, bahkan ada anak yang bisa memberikan respon sangat tertarik pada materi sex. Sebagai orangtua kita perlu pintar dalam menyikapinya sebelum memberikan sex education lebih detail jangan sampai mereka merasa terpojokkan, malu, atau bahkan menjadi terlalu liar dalam menyikapinya.
      Pada kasus pencabulan anak yang sering terjadi, kebanyakan dari mereka merasa tidak sadar bahwa dirinya mengalami pencabulan. Yang dipahami anak adalah mereka merasa disayangi karena mungkin pelaku meracuni pikiran mereka dengan pemahaman yang sesat apalagi diberikan imbalan sesuatu yang disukainya. Faktor ketidaktahuan dan ketidakberdayaan mereka telah dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan seksual secara sengaja. Oleh karena itu, Anda bisa mengajarkan anak mengenai apa saja yang harus dilakukan untuk melindungi dirinya sendiri dari kejahatan seksual. Seperti mengajarkan mereka untuk menolak membuka pakaian, diraba alat vitalnya oleh teman, saudara atau orang yang dikenalinya meskipun diberikan imbalan. Mereka juga harus diberitahu cara merespon jika mereka dipaksa melakukan sesuatu atau diintimidasi oleh orang dewasa saat mereka mencoba melakukan penolakan yang membuatnya tidak nyaman. Dekati sang anak agar mereka selalu berusaha terbuka kepada orangtuanya.
      Usia 9-12 tahun
      Pada usia ini Anda perlu banyak memberikan informasi detail mengenai perubahan-perubahan yang akan terjadi pada bagian tubuh mereka saat masa puber yang cenderung berbeda pada tiap individu dan jenis kelamin. Jika laki-laki, beritahu bagaimana cara menyikapi mimpi basah sebagai bagian dari tandanya dia telah baligh. Atau jika perempuan beritahu bagaimana caranya menyikapi masa menstruasi sebagai bagian normal dari tahapan perkembangan invidu khususnya pada wanita.
      Memperkenalkan bagaimana cara menjaga kesehatan alat kelamin juga sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit kelamin di kemudian hari, tekankan bahwa jika mereka mengikuti peraturan tersebut mereka tidak perlu merasa banyak khawatir.
      Usia 12 tahun ke atas
      Berbagai data survei menyebutkan bahwa hampir setengahnya remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seksual sebelum terikat pernikahan. Ini artinya, telah banyak remaja yang sudah terjerat seks bebas tanpa pengawasan dan penanggulangan pendidikan seks dini khususnya dari orangtua. Perlu diketahui bahwa dorongan atau gairah seksual pada masa puber meningkat sangat signifikan, oleh sebab itu orangtua seharusnya sudah mengajarkan seperti apa sistem reproduksi dan bagaimana cara kerjanya pada masa ini.
      Memberikan pemahaman tentang arti cinta dan pacaran sangat mempengaruhi pemikiran sang anak dalam menyikapi pergaulan seks bebas yang terjadi di sekitarnya. Tanamkan pemahaman khususnya pada anak perempuan, bahwa jika ada laki-laki yang mengajaknya berhubungan di luar nikah bahkan sampai melakukan pemaksaan dan marah saat dia menolaknya bukan berarti dia tidak mencintainya. Justru jika hal tersebut terjadi, itu tandanya mereka tidak mencintai anak Anda dan hanya ingin menjadikan dia sebagai pelampias nafsunya saja. Sampaikan bahwa ada banyak konsekuensi yang akan dihadapinya jika mereka melanggar prinsip melakukan hubungan seksual di luar pernikahan, baik dari sisi biologis, psikologis maupun sosial. Orangtua selalu dituntut untuk melakukan komunikasi dua arah untuk menghindari berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan.
      Hindari mengeluarkan kata-kata menghakimi agar anak-anak tidak merasa takut dan enggan untuk berbagi cerita dengan orangtuanya. Jika orangtua merasa berat untuk membicarakan bahasan tentang seks dengan anak, mungkin Anda bisa meminta bantuan kepada psikologi untuk memberikan pendidikan seks yang tepat.
    • By MariaAngeline
      Pembicaraan mengenai sex masih tabu di kalangan masyarakat Indonesia, namun di zaman sekarang ini rasanya pendidikan sex perlu diperkenalkan lebih dini kepada anak. Sex education yang mendidik tentu tidak akan mencederai apa yang seharusnya dijaga dan dipertahankan, bukan malah mengarahkan untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma agama, sosial, dan kesusilaan. Sebagai orangtua, kita perlu mewaspadai hal-hal yang sekiranya dapat mempengaruhi pergaulan anak-anak, tidak hanya itu bahan bacaan seperti buku pun patut menjadi perhatian.

      Buku berjudul “Saatnya Aku Belajar Pacaran” karya Toge Aprilianto yang akhir-akhir ini menuai kontroversi di dunia maya, adalah salah satu contoh sumber media yang perlu diwaspadai. Isinya yang seolah mengajak anak remaja berhubungan intim banyak menuai kecaman. Bebagai media kini semakin terbuka dalam mempengaruhi pemahaman anak mengenai pendidikan sex yang akhirnya banyak menyimpang. Disinilah sebagai orangtua kita perlu mengetahui dan memahami kapan sex education diperkenalkan kepada anak dengan tepat sesuai usianya.
      Usia 5 tahun ke bawah
      Pertama, mungkin kita akan merasa kebingungan bagaimana caranya menyampaikan pendidikan seks pada seorang balita yang berusia 5 tahun, kenyataannya mungkin Anda bisa melewati tahap ini dengan mudah. Pada rentang usia ini, Anda bisa memulai pendidikan seks dengan memperkenalkan organ tubuh dan fungsinya masing-maisng. Tidak perlu merasa bingung dan ragu saat Anda harus memperkenalkan alat kelaminnya, waktu yang tepat akan menghilangkan ketidaknyamanan Anda saat memperkenalkan organ vitalnya. Seperti saat anak sedang dimandikan atau saat Anda memakaikan pakaiannya. Dalam hal ini Anda tidak perlu membahasnya hingga terlalu detail atau mengajarkannya dalam keadaan yang serius, cara ini diharapkan bisa menghindari penyebutan yang dianggap tidak sopan dengan menyebut alat kelamin yang dimilikinya saat berada di lingkungan sosial masyarakat.
      Selain memperkenalkan organ vitalnya, Anda juga bisa mengajarkan mengenai jenis kelamin antara perempuan dan laki-laki dan apa perbedaannya. Mengajarkan anak tentang hak dan kewajibannya untuk menjaga milik pribadinya juga sangatlah penting, termasuk alat vitalnya. Beritahukan bahwa mereka tidak boleh menunjukkan alat kelaminnya secara sembarang tempat dan orang yang bukan muhrimnya. Hal ini untuk menghindari pelecehan seksual yang banyak mengincar anak-anak di sekitar kita.
      Jika anak mencoba menolak dicium atau dipeluk orang lain, hargai keputusannya. Mereka memiliki hak untuk menolak segala macam bentuk kasih sayang dari orang lain yang mungkin membuatnya merasa tidak nyaman, jangan memaksakan mereka untuk melakukannya meskipun hanya sebagai bentuk penghargaan. Hal ini juga bisa menjadi kesempatan untuk mereka belajar penolakan.
      Usia 6-9 tahun
      Pada usia ini, orangtua perlu memperhatikan banyak hal. Setiap anak baik perempuan maupun laki-laki memiliki minat berbeda terhadap seks, ada yang masa bodoh tidak ingin tahu, merasa terganggu dengan pembicaraan sex, bahkan ada anak yang bisa memberikan respon sangat tertarik pada materi sex. Sebagai orangtua kita perlu pintar dalam menyikapinya sebelum memberikan sex education lebih detail jangan sampai mereka merasa terpojokkan, malu, atau bahkan menjadi terlalu liar dalam menyikapinya.
      Pada kasus pencabulan anak yang sering terjadi, kebanyakan dari mereka merasa tidak sadar bahwa dirinya mengalami pencabulan. Yang dipahami anak adalah mereka merasa disayangi karena mungkin pelaku meracuni pikiran mereka dengan pemahaman yang sesat apalagi diberikan imbalan sesuatu yang disukainya. Faktor ketidaktahuan dan ketidakberdayaan mereka telah dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan seksual secara sengaja. Oleh karena itu, Anda bisa mengajarkan anak mengenai apa saja yang harus dilakukan untuk melindungi dirinya sendiri dari kejahatan seksual. Seperti mengajarkan mereka untuk menolak membuka pakaian, diraba alat vitalnya oleh teman, saudara atau orang yang dikenalinya meskipun diberikan imbalan. Mereka juga harus diberitahu cara merespon jika mereka dipaksa melakukan sesuatu atau diintimidasi oleh orang dewasa saat mereka mencoba melakukan penolakan yang membuatnya tidak nyaman. Dekati sang anak agar mereka selalu berusaha terbuka kepada orangtuanya.
      Usia 9-12 tahun
      Pada usia ini Anda perlu banyak memberikan informasi detail mengenai perubahan-perubahan yang akan terjadi pada bagian tubuh mereka saat masa puber yang cenderung berbeda pada tiap individu dan jenis kelamin. Jika laki-laki, beritahu bagaimana cara menyikapi mimpi basah sebagai bagian dari tandanya dia telah baligh. Atau jika perempuan beritahu bagaimana caranya menyikapi masa menstruasi sebagai bagian normal dari tahapan perkembangan invidu khususnya pada wanita.
      Memperkenalkan bagaimana cara menjaga kesehatan alat kelamin juga sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit kelamin di kemudian hari, tekankan bahwa jika mereka mengikuti peraturan tersebut mereka tidak perlu merasa banyak khawatir.
      Usia 12 tahun ke atas
      Berbagai data survei menyebutkan bahwa hampir setengahnya remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seksual sebelum terikat pernikahan. Ini artinya, telah banyak remaja yang sudah terjerat seks bebas tanpa pengawasan dan penanggulangan pendidikan seks dini khususnya dari orangtua. Perlu diketahui bahwa dorongan atau gairah seksual pada masa puber meningkat sangat signifikan, oleh sebab itu orangtua seharusnya sudah mengajarkan seperti apa sistem reproduksi dan bagaimana cara kerjanya pada masa ini.
      Memberikan pemahaman tentang arti cinta dan pacaran sangat mempengaruhi pemikiran sang anak dalam menyikapi pergaulan seks bebas yang terjadi di sekitarnya. Tanamkan pemahaman khususnya pada anak perempuan, bahwa jika ada laki-laki yang mengajaknya berhubungan di luar nikah bahkan sampai melakukan pemaksaan dan marah saat dia menolaknya bukan berarti dia tidak mencintainya. Justru jika hal tersebut terjadi, itu tandanya mereka tidak mencintai anak Anda dan hanya ingin menjadikan dia sebagai pelampias nafsunya saja. Sampaikan bahwa ada banyak konsekuensi yang akan dihadapinya jika mereka melanggar prinsip melakukan hubungan seksual di luar pernikahan, baik dari sisi biologis, psikologis maupun sosial. Orangtua selalu dituntut untuk melakukan komunikasi dua arah untuk menghindari berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan.
      Hindari mengeluarkan kata-kata menghakimi agar anak-anak tidak merasa takut dan enggan untuk berbagi cerita dengan orangtuanya. Jika orangtua merasa berat untuk membicarakan bahasan tentang seks dengan anak, mungkin Anda bisa meminta bantuan kepada psikologi untuk memberikan pendidikan seks yang tepat.
    • Guest News
      By Guest News
      Bagi mereka yang berbakat seni termasuk seni ukir dan seni rupa sekarang terbuka peluang untuk ikut memoles tampilan special effects di Hollywood. Keahlian seperti ini diperlukan untuk memproduksi film-film blockbuster sarat efek visual, termasuk seri film "Avatar" dan "Avengers".
       
    • By BincangEdukasi
      Apa saja fungsi dan peran yang dijalankan oleh sekolah dalam mencapai tujuannya? Begitu banyak pakar dan pegiat pendidikan yang mencoba menjawab pertanyaan ini. Salah satu yang menarik adalah tulisan John Taylor Gatto, “Against School”. John Gatto adalah seorang mantan guru teladan yang telah mengajar selama 30 tahun lalu menjadi aktivis pendidikan. Ia telah mengeluarkan banyak buku dan tulisan berisi kritik terhadap model persekolahan formal seperti yang pada umumnya kita lihat dan alami sekarang. Dalam “Against School”, John Gatto tidak menuliskan pendapatnya sendiri tentang fungsi sekolah, namun ia “mengutip” tulisan Alexander Inglis.
      John Gatto menuliskan bahwa Alexander Inglis, salah satu bapak pendidikan modern, tanpa malu-malu menyebutkan enam fungsi persekolahan modern dalam bukunya “The Principles of Secondary Education” yang terbit pada tahun 1918. Enam fungsi tersebut adalah:
      Adjustive atau adaptive function. Sekolah bertujuan menanamkan reaksi yang tetap terhadap otoritas. Tujuannya adalah menghilangkan pemikiran kritis seutuhnya. Fungsi ini juga menegasikan konsep bahwa sekolah perlu mengajarkan materi yang menarik, karena kita tidak akan bisa menguji kepatuhan reaktif kecuali kita membuat anak mau belajar dan melakukan hal-hal yang bodoh dan membosankan. Integrating function. Bisa juga disebut sebagai conformity function karena tujuannya adalah membuat setiap anak menjadi mirip dan serupa satu sama lain. Orang-orang yang patuh menjadi mudah ditebak, dan oleh karenanya akan bermanfaat bagi pihak-pihak yang ingin memanfaatkan mereka untuk menjadi tenaga kerja massal. Diagnostic and directive function. Sekolah dimaksudkan untuk menentukan peran sosial yang pantas bagi setiap siswa. Hal ini dilakukan dengan memasukkan “bukti-bukti” matematik pada catatan kumulatif. Catatan ini menempel secara permanen pada setiap individu. Differentiating function. Sesudah setiap peran sosial mereka ditentukan, anak-anak kemudian dipilah berdasarkan peranan itu serta dilatih hanya sebatas untuk memenuhi tujuan yang telah ditentukan oleh sekolah itu dan tidak lebih dari itu. Tidak ada usaha untuk membuat siswa menjadi dirinya yang terbaik. Selective function. Fungsi ini bukan menggambarkan kewenangan pilihan oleh siswa, namun menggambarkan teori seleksi alami Darwin yang di[salah]gunakan untuk memilih “ras favorit”. Singkatnya, fungsi ini bertujuan meningkatkan mutu “kawanan ternak”. Sekolah digunakan untuk menandai mereka yang dianggap tidak layak – dengan nilai rendah, pengulangan kelas, dan hukuman-hukuman lain – secara sangat kentara sehingga para sesamanya akan menganggap mereka inferior dan menyingkirkan mereka dari pergaulan sosial dan “undian reproduktif”. Itulah tujuan dari segala tindakan yang mempermalukan siswa sejak kelas awal: agar mereka terbuang ke selokan. Propaedeutic function. Sistem sosial yang diimplikasikan oleh berbagai fungsi ini membutuhkan pasukan elit yang akan menjaga kelanggengan sistemnya. Oleh karenanya, sebagian kecil dari anak-anak di sekolah akan dilatih diam-diam untuk memastikan keberlanjutian proyek ini, bagaimana mengawasi dan mengendalikan populasi yang sengaja dibuat bodoh dan tidak berdaya agar pemerintah dapat berjalan tanpa tantangan dan perusahaan selalu mendapatkan persediaan tenaga kerja yang patuh.
      Wow! Keras sekali penjelasan dari Alexander Inglis seperti dikutip John Gatto ini. Namun apakah benar sekeras dan sevulgar itu Inglis menulis? Bila buku Inglis, Principles of Secondary Education, dibaca kembali maka sebenarnya ditemukan penjelasan yang berbeda dari yang dikutip Gatto. Alexander Inglis menulis bahwa fungsi-fungsi sekolah adalah:
      Adjustive atau adaptive function. Sekolah perlu menyediakan sarana agar siswa mampu melakukan adaptasi dan re-adaptasi dengan lingkungannya yang dinamis dan terus berubah dengan cepat. Namun di sisi lain sekolah juga perlu mengembangkan prinsip-prinsip tertentu diri siswa yang teguh dan tidak terombang-ambing dengan perubahan yang cepat. Integrating function. Masyarakat juga memiliki tuntutan kepada sekolah untuk menyiapkan siswa-siswa yang mampu berintegrasi ke dalam masyarakat dalam arti memiliki visi dan tujuan yang sejalan. Perkembangan kehidupan yang semakin heterogen membutuhkan benang merah penghubung berupa nilai-nilai, pengetahuan dan tindakan yang diterima secara umum [misal di Indonesia: Pancasila]. Differentiating function. Inglis menekankan bahwa integrating functiontidak boleh dilihat terpisah dan tidak berkorelasi dengan differentiating function. Dua fungsi ini bersifat suplementer satu terhadap yang lain. Saatintegrating function berfungsi mengembangkan sebagian kecil sifat homogenitas dari populasi yang heterogen untuk memastikan solidaritas sosial, maka differentiating function berfungsi menangkap, mengembangkan dan memanfaatkan perbedaan-perbedaan individual untuk tujuan kemajuan sosial. Siswa di sekolah memiliki perbedaan yang sangat beragam dalam kemampuan, minat dan sikap alami. Kegagalan menyadari fakta adanya perbedaan ini akan menimbulkan kegagalan mengembangkan kemajuan sosial semaksimal mungkin. Kebutuhan dunia sosial dan industri modern yang juga semakin beragam membutuhkan individu-individu yang tidak seragam. Kesemuanya ini tidak mungkin disediakan oleh satu model pendidikan yang seragam. Aktivitas-aktivitas kehidupan yang beragam membutuhkan model-model pendidikan yang beragam. Propaedeutic function. Fungsi ini menjelaskan bahwa persiapan menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi tidak selayaknya dianggap sebagai tujuan yang terpisah dari persekolahan. [Ingat di jaman Inglis menulis di awal tahun 1900-an ini, sangat sedikit siswa yang meneruskan ke pendidikan tinggi, sehingga banyak sekolah saat itu yang mengabaikan sama sekali persiapan bagi siswa yang ingin melanjutkan ke pendidikan tinggi.] Inglis menulis perlu ada keseimbangan dalam pendidikan menengah untuk menyiapkan siswa yang ingin melanjutkan ke pendidikan tinggi dan yang ingin langsung bekerja sesudah pendidikan menengah. Melebih-lebihkan atau, sebaliknya, mengabaikan salah satunya tidak akan membawa manfaat. Selective function. Fungsi seleksi muncul akibat adanya perbedaan individu yang menjadi faktor yang semakin penting saat siswa menapaki jenjang pendidikan. Perbedaan individu ini tidak memungkinkan ada satu model pendidikan yang fits for all, sehingga perlu ada fungsi seleksi untuk mengarahkan siswa ke model-model pendidikan yang berbeda [walau dengan keterbatasannya masing-masing pula]. Ada dua paradigma seleksi, yang pertama adalah mengeliminasi individu-individu yang tidak memenuhi satu set tuntutan standar tertentu yang seragam. Inglis menyatakan teori yang mendukung paradigma ini perlu dimodifikasi secara sangat signifikan [artinya: teori itu meragukan]. Paradigma ke-2 yang kontras terhadap paradigma pertama adalah seleksi berdasarkan diferensiasi.Ada  dua pertimbangan yang menjadi justifikasi paradigma ini: 1. Setiap individu sangat berbeda dalam kapasitas, minat dan sikap. Perbedaan-perbedaan dalam kapasitas, minat dan sikap itu tidak bisa dinilai secara kumulatif menjadi satu penilaian karakter total, namun tetap harus dilihat sebagai bagian-bagian sifat diri yang terpisah dan berbeda namun saling terhubung dan berkaitan;
      2. Tidak ada satu subjek atau kelompok yang dapat menyatakan dirinya eksklusif dan patut mendapat perhatian utama dalam persekolahan. Setiap subjek atau kelompok memiliki kedudukan setara. Artinya, seorang siswa yang lemah dalam satu kemampuan atau minat tertentu, namun memiliki kemampuan dan minat di bidang lain, maka siswa itu perlu mendapatkankan pendidikan dalam area di mana ia memiliki minat dan kemampuan. Ia tidak boleh dilucuti hak dan kesempatannya untuk mendapatkan pendidikan yang ia butuhkan hanya karena ia tidak memiliki minat dan kemampuan dalam subjek-subjek tertentu yang lebih disukai secara resmi oleh penguasa. Diagnostic and directive function. Demi mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan individu dan demi mencapai kemajuan bersama, maka setiap individu sebisa mungkin difasilitasi untuk melakukan hal-hal terbaik dan positif yang menjadi kekuatannya. Untuk menemukan apa yang bisa dilakukan dengan sangat baik dan dengan bahagia oleh setiap siswa maka siswa perlu dipaparkan pada sebanyak-banyaknya pengalaman yang berbeda. Maka sistem persekolahan yang dibangun perlu sebisa mungkin menyediakan ragam materi dan kegiatan yang memberikan kesempatan pada siswa untuk mencoba dan menjelajahi minat dan kemampuannya, serta membantu memberikan arah dan bimbingan. Selain arah dan bimbingan secara umum, perlu juga disediakan arah dan bimbingan dalam aspek-aspek yang lebih sempit, yaitu bimbingan moral, bimbingan sosial, bimbingan fisik dan bimbingan vokasional. Sesudah membaca dengan lengkap tulisan Alexander Inglis, maka muncul pertanyaan apakah John Gatto membaca tulisan yang berbeda? Apakah ia salah membuat interpretasi? Ataukah ia sengaja membuat peringatan bagi pembacanya bahwa fungsi-fungsi sekolah sebagaimana disusun oleh Inglis dapat dengan mudah terbelokkan seperti yang ia lihat pada banyak sekolah saat ini? Yang jelas, dengan membaca kedua ini maka para pegiat pendidikan akan mendapatkan pengingat tentang bagaimana fungsi persekolahan yang ideal dan sebisa mungkin diwujudkan seperti yang ditulis Alexander Inglis, serta bagaimana fungsi persekolahan yang seharusnya dihindari seperti yang ditulis oleh John Gatto.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy