Jump to content
ginseng

Pramugari Juga Dilatih Cara Mengalahkan Hiu

Recommended Posts

pramugari.jpg

Selama ini kita hanya tahu bahwa pramugari bertugas melayani berbagai kebutuhan penumpang saat di pesawat. Namun ternyata profesi yang satu ini memiliki tugas lebih dari itu. 

Pramugari tidak hanya dilatih untuk dapat menangani situasi akibat turbulensi ataupun yang berhubungan dengan cuaca. Namun pramugari diharuskan mampu menangani tugas lainnya yang bisa dikatakan aneh. Mereka dilatih untuk bertahan hidup di padang pasir hingga membantu penumpang melahirkan.

Mantan pramugari Virgin Atlantic, Mandy Smith mengatakan mereka diajari menangani segala sesuatu yang berhubungan dengan situasi darurat yang kemungkinan terjadi di pesawat, kapanpun, dimanapun, dan apapun itu.

"Dalam pelatihan, kita diajarkan untuk menangani segala sesuatu dari ketidakberdayaan awak kabin lain, memadamkan kebakaran, hingga pertolongan medis darurat untuk prosedur evakuasi," kata Mandy, yang dikutip dari laman dailymail.

Selain itu, pramugari juga diajarkan bagaimana mengidentifikasi teroris. Bahkan, pramugari diajari untuk menahan orang yang berpotensi membahayakan pesawat."Awak kabin diajari oleh mantan instruktur SAS (pasukan khusus) bagaimana mencegah dan menahan individu yang menimbulkan ancaman bagi keselamatan pesawat dan menangani penumpang nakal atau mabuk," tambah Mandy.

Wanita yang pernah menjalani profesi pramugari selama 12 tahun ini juga mengatakan bahwa pramugari diajari teknik bertahan dalam situasi yang sulit seperti mendarat di gurun, laut, kutub dan hutan.

Bahkan pramugari juga diajarkan cara menangani hiu. "Kecelakaan pesawat yang akhirnya terjerumus ke lautan sering terjadi. Sehingga memungkinkan bertemu dengan monster laut tersebut, jadi lebih baik mempersiapkannya. Kami diajarkan untuk mempertahankan diri dengan menyerang titik lemah mereka, yaitu hidung dan mata," ungkapnya.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By plusplus
      Iran membantah tuduhan yang menyebutkan bahwa pesawat Ukraina yang jatuh di Bandara Imam Khomeini disebabkan oleh tembakan rudal.
      Teheran menganggap tuduhan itu tidak masuk di akal, sebab beberapa penerbangan domestik dan internasional juga terbang di wilayah itu di ketinggian 2.440 meter pada saat yang sama.
      "Kisah tentang rudal yang menabrak sebuah pesawat sama sekali tidak benar. Rumor seperti itu tidak masuk akal," Kepala Organisasi Penerbangan Sipil Iran sekaligus Wakil Menteri Transportasi, Ali Abedzadeh, seperti dilansir AFP pada Kamis (9/1).
      Pesawat Ukraine International Airlines itu jatuh tidak lama setelah lepas landas pada Rabu (8/1) pagi waktu setempat. Seluruh 176 penumpang dan kru pesawat jenis Boeing 737 itu tewas di tempat.
      Iran telah menemukan kotak hitam pesawat itu namun menolak untuk diberikan kepada Amerika Serikat demi diselidiki. Teheran ingin kotak hitam itu diselidiki di negara selain AS.
      Laporan yang dirilis otoritas penerbangan Iran mengungkapkan bahwa pesawat itu sempat berputar balik ke arah bandara sebelum jatuh. Pilot dilaporkan tidak mengirimkan pesan radio terkait kemungkinan kerusakan pesawat.
      Investigasi yang dilakukan Teheran tak mengungkapkan lebih lanjut kecelakaan mendadak yang menimpa pesawat nahas tersebut.
      Berdasarkan sumber intelijen, media AS menyebut itu jatuh karena tembakan rudal militer Iran. Tuduhan itu muncul ketika ketegangan antara Teheran dan Washington kembali memanas terutama setelah serangan drone AS menewaskan jenderal Iran, Qasem Soleimani, di Irak.
      Kanada juga mengamini laporan AS itu. Perdana Menteri Justin Trudeau mengatakan negaranya memiliki data dari berbagai sumber intelijen menunjukkan pesawat itu jatuh akibat tertembak rudal Iran.
    • By ega
      Boeing mengumumkan akan menangguhkan sementara produksi 737 Max mulai bulan depan. Langkah ini diambil menyusul keputusan regulator keselamatan terkait pesawat 737 Max.
      Dikutip dari AFP, keputusan penangguhan tersebut menguatkan kekhawatiran investor terkait pemulihan perusahaan dari krisis yang berlarut-larut dan menciptakan ketidakpastian bagi Boeing.
      Kesulitan Boeing sejak Maret telah membebani ekonomi AS. Perusahaan tersebut menekan output manufaktur Amerika dan merusak kinerja perusahaan pada indeks Wall Street, Dow Jones Industrial Average.
      Dalam pernyataan resminya, perusahaan mengatakan akan terus membayar pekerjanya meskipun penghentian produksi sementara. Namun, keputusan tersebut menimbulkan pertanyaan untuk masa depan pemasok suku cadang yang berkontribusi pada pembuatan jet.
      "Kami sebelumnya telah menyatakan bahwa kami akan terus mengevaluasi rencana produksi kami jika landasan MAX lebih lama dari yang kami harapkan," kata Boeing dalam pernyataan resmi.
      Boeing pun mengungkap sebagai hasil dari evaluasi yang sedang berlangsung, perusahaan akan memprioritaskan pengiriman pesawat yang disimpan. Perusahaan mengatakan akan fokus pada pengiriman 400 jet yang telah disimpan di penyimpanan.
      Boeing 737 Max menjadi sorotan usai kecelakaan mematikan di Indonesia dan Ethiopia, yang menewaskan 346 orang. Namun, Boeing terus memproduksi 40 pesawat per bulan di sebuah fasilitas Renton, Washington.
      Pekan lalu, regulator penerbangan AS mengeluarkan teguran kepada Boeing dan menuduh perusahaan mengejar jadwal untuk membawa Max kembali ke 'udara'.
      Federal Aviation Administration mengatakan mereka tidak menyetujui kembalinya jet ke layanan sebelum 2020. Meskipun, Boeing telah lama menargetkan dapat lampu hijau regulator sebelum akhir tahun.
    • By iiee
      Maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. diminta untuk lebih transparan menjelaskan laporan keuangannya yang tengah menjadi polemik. Transparansi ini adalah bagian dari keterbukaan informasi Garuda sebagai perusahaan terbuka.
      "Seyogianya direksi Garuda perlu menjelaskan ke publik sebagai keterbukaan informasi. Mengingat Garuda adalah emiten sekaligus BUMN entitas publik," kata Ketua Institut Akuntan Publik Indonesia atau IAPI, Tarkosunaryo, ketika dihubungi Tempo, Kamis 25 April 2019.
      Sebelumnya terjadi perbedaan pendapat di antara Dewan Komisari Garuda Indonesia tentang laporan keuangan 2018. Dua komisaris Garuda, Chairal Tanjung dan Dony Oskaria menyatakan keberatan dan tak menandatangani laporan keuangan tersebut.
      Keberatan itu berpangkal pada adanya pos pendapatan lain-lain yang dianggap masih berbentuk piutang yang ikut masuk sebagai total pendapatan perseroan. Namun, kedua komisaris tersebut tak sependapat dalam pembukuan tersebut.
      Keduanya menilai pencatatan ini bertentangan dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Negara atau PSAK Nomor 23. Menurut mereka, piutang yang muncul dari perjanjian kerja sama antara Garuda dengan PT Mahata Aero Teknologi tersebut seharusnya tak dimasukan pos pendapatan.
      Tarkosunaryo juga berpendapat bahwa sebaiknya Garuda membuka secara lengkap bagaimana kontrak antara Garuda dengan Mahata. Khususnya mengenai bagaimana realisasi dari adanya kerja sama itu. "Apakah prestasi pekerjaan sudah ada dan hak tagih sudah dapat dieksekusi," kata Tarkosunaryo
      Kendati demikian, Tarko menjelaskan, pencatatan piutang sebagai pendapatan dalam dunia akuntansi dianggap sebagai sesuatu yang lazim ditemui. Dalam dunia akuntansi hal ini lazim dikenal dengan istilah pencatatan akuntansi berbasis akrual.
      Baca: Laporan Keuangan Garuda Janggal, Ini Keberatan Dua Komisaris
      Dalam hal ini, lanjut dia, transaksi-transaksi dicatat pada saat terjadinya transaksi itu, bukan saat uang diterima. Transaksi pendapatan dicatat dalam pembukuan pada saat hak tagih sudah ada karena penjual sudah melakukan kewajiban sesuai kontrak.
      Artinya, dalam kasus Garuda, yang perlu diperjelas adalah realisasi transaksi yang kemudian menimbulkan hak tagih (piutang) sehingga bisa dimasukkan dalam pendapatan. Hal inilah yang perlu diungkap ke publik apakah pencatatan dari piutang menjadi pendapatan tersebut sesuai standar. "Nah yang dapat melakukan ini ya direksi beserta auditornya," kata Tarkosunaryo.
    • By ThinkSmart
      CEO Boeing Co, Dennis Muilenburg untuk pertama kalinya, akhirnya mengakui bahwa malfungsi Boeing 737 Max 8 berperan dalam jatuhnya Lion Air JT 610 pada Oktober dan Ethiopian Airlines ET 302 pada Maret 2019. Menanggapi pengakuan yang dirilis Muilenburg dalam sebuah video itu, Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B. Pramesti mengatakan bahwa Kementerian Perhubungan masih mempelajari ihwal kasus Boeing.
      Polana mengatakan Kemenhub masih menunggu hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi dan perbaikan yang akan dilakukan Boeing. "Terlalu dini kalau pemerintah melarang B737Max atau B737 families," kata Polana saat dihubungi, Ahad, 7 April 2019.
      Sebelumnya, CEO Boeing, Dennis Muilenburg mengakui kecelakaan Lion Air JT 610 dan Ethiopian Air ET 302 terjadi karena fitur otomatisasi MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System) pesawat aktif sebagai respons terhadap informasi angle of attack/AOA (sudut serangan) yang keliru. Muilenburg  mencuitkan rasa menyesalnya itu ke akun Twitternya. Seperti dikutip Antara, Sabtu 6 April 2019, bos pabrikan pesawat terbesar Amerika Serikat itu mewakili seluruh karyawan Boeing menyampaikan simpati kepada keluarga korban para penumpang dan kru pesawat Lion Air dan Ethiopian Airlines. 
      Setelah mengakui kesalahan itu, Muilenburg mengatakan bahwa perusahaan memiliki "tanggung jawab untuk menghilangkan risiko tersebut. Lalu, Boeing pun berupaya membuat pembaruan perangkat lunak 737 Max untuk mencegah kecelakaan serupa terjadi lagi. 
      Terkait cacat sistem MCAS ini, Muilenburg menyebut pihaknya telah bekerja tanpa lelah bersama Federasi Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA) semenjak tragedi Lion Air. Boeing bersama pihak lainnya pun berupaya untuk menyelesaikan dan mengimplementasikan perangkat lunak demi memastikan kecelakaan naas tersebut tak akan pernah terjadi lagi.
      Kecelakaan udara mematikan baru-baru ini telah menyebabkan pelarangan terbang pesawat 737 Max di seluruh dunia. Otoritas penerbangan Amerika Serikat, FAA, telah melarang terbang semua pesawat Boeing 737 Max 8 di Amerika Serikat dan seluruh dunia. Di Indonesia, Kementerian Perhubungan telah meng-grounded 11 unit pesawat tipe tersebut yang dimiliki maskapai penerbangan Lion Air dan Garuda Indonesia sejak 14 Maret 2019.
    • By dugelo
      Bayangkan bagaimana orang kaya hidup hari ini, ujar Hal Varian, ekonom utama di Google. Mereka punya supir sendiri. Bankirnya sendiri. Hidupnya serba dilayani dan bagaikan mimpi. Inikah pula yang kamu idamkan?
      Demikianlah, cara mudah membayangkan membayangkan masa depan menurut Varian: Di masa mendatang, pekerjaan-pekerjaan akan dituntaskan oleh robot. Rutinitas-rutinitas yang menyita waktu dan menyiksa akan diambil alih mereka sementara manusia akan memiliki semakin banyak waktu untuk dihabiskannya sendiri.
      Perjalanan mereka akan disetiri oleh kendaraan dengan kecerdasan buatan. Setiap orang akan memiliki sistem yang bekerja mengurusi tetek bengek yang menguras waktu dan tenaganya.
      Masa depan yang menyenangkan? Masa depan yang sudah tak terlalu jauh lagi, Varian percaya.
      Inovasi sudah terjadi tapi…
      Persoalannya, inovasi-inovasi teknologi serta pengorganisasian kerja sebenarnya sudah sejak lama memangkas berbagai kewajiban kerja yang kita perlukan. Sejak kapan telepon genggam kita berubah menjadi perkakas serba bisa?
      Apakah 2005 yakni sejak Blackberry serta Blackberry Messenger diperkenalkan dan memudahkan kebutuhan-kebutuhan komunikasi Anda? Apakah sejak iOS, Android diperkenalkan dan segala ragam aplikasi pengatur hidup tersedia dalam genggaman tangan?
      Yang pasti, berkatnya Anda kini tidak perlu lagi merepotkan diri mengirim dokumen-dokumen lewat pos.Anda tidak harus lagi mendatangi orang dan bergelut dengan kemacetan ketika detail pekerjaan dapat diterangkan melalui surel, pesan WhatsApp, atau panggilan video.
      Dan setiap saat, aplikasi-aplikasi, sistem operasi memutakhirkan diri sehingga kebutuhan-kebutuhan kecil—mengunggah foto atau dokumen, katakanlah—semakin tidak perlu Anda pikirkan.
      Apakah pekerjaan berkomunikasi Anda semakin sedikit, pertanyaannya? Apakah waktu luang Anda semakin banyak? Saya jamin, tidak. Bagi kebanyakan dari kita, tidak. Apa yang terjadi adalah Anda masih mesti menanggapi surel dari atasan atau klien pada pukul tiga dini hari. Boleh jadi, Anda bahkan masih harus bergelut dengan rapat melalui panggilan video pada hari raya Lebaran.
      Anda seorang desainer? Anda, boleh jadi, pernah bergelut merevisi pekerjaan Anda puluhan kali—menyambangi semua yang diinginkan klien dan bos Anda hanya untuk kembali ke desain pertama yang Anda ajukan. Semua berkat kemudahan berkomunikasi.
      Potret kerja media daring
      Bagaimana awalnya kepelikan ini terjadi? Keinginan. Ia, saya rasa, berawal dari keinginan manusia yang bukan saja tak tuntas-tuntas melainkan juga mengada-ada. Pekerjaan, toh, tak pernah sekadar melayani kebutuhan-kebutuhan bertahan hidup belaka sebuah masyarakat.
      Saya tak tahu bagaimana menerangkannya dengan kalkulasi ekonometri yang teliti. Tetapi, saya dapat menceritakan awal mula wartawan di Indonesia diharuskan menulis lima belas berita per harinya.
      Awalnya adalah kesuksesan Detik.com yang mengantarkannya menjadi media daring terbesar hingga hari ini. Pada waktu itu, media daring adalah wahana yang benar-benar baru. Belum ada yang benar-benar tahu strategi agar pengunjung secara konsisten terpikat mendatanginya.
      Detik.com, lantas, mencoba menayangkan sebanyak-banyaknya berita di portalnya. Lebih banyak selalu lebih baik. Lagi pula, berbeda dengan media cetak, media daring sanggup menayangkan berita sebanyak apa pun. Strategi ini berhasil meraup pembaca. Dan, memang, perhitungannya masuk akal. Dengan menayangkan lebih banyak berita, peluang berita mereka dibaca, disebarkan, dan dibicarakan dengan sendirinya akan lebih besar.
      Akan tetapi, apa yang terjadi selepas standar Detik.com menjadi mantra semua media daring yang ada? Media disesaki pengulangan-pengulangan tak berbobot. Satu cerita yang sama dapat didedah menjadi tiga-empat berita. Berita-berita merupakan jiplakan mentah dari siaran pers. Tentu saja, dengan cara apa lagi seorang awak media dapat menulis lima belas berita dalam sehari kecuali dengan taktik-taktik semacam ini?
      Keinginan siapa yang dipuaskan dengan berita-berita daring yang demikian? Keinginan pembaca, boleh jadi. Tetapi, bukankah keinginan mereka seharusnya dapat dipuaskan dengan berita secukupnya yang mengena dan merangkum semua informasi yang dibutuhkan? Dan bukankah kalau media daring tak menciptakan sendiri rasa penasaran tidak sehat pembaca dengan berita-berita sepotong dan umpan klik, wartawan tidak harus bekerja bak mesin atau bahkan menulis berita yang lebih bernas?
      Tak hanya media
      Saya kira, kepelikan ini kini tak sekadar mencekik para pekerja media. Beberapa editor media daring menetapkan standar wartawannya harus dapat dikontak 24 jam penuh. Bayangkan, 24 JAM PENUH!
      Peraturan menyesakkan serupa, kendati tak pernah disampaikan secara terbuka, juga menjadi norma yang sebenarnya dipaksakan kepada banyak pekerja di ranah-ranah lainnya.
      Staf Humas Elon Musk bercerita ia dapat dipanggil bosnya itu pukul tiga pagi hanya karena Sang Bos menemukan kritik sepele terhadap dirinya. Kondisi ini, saya yakin, bukan kondisi yang sulit dipahami pekerja-pekerja di Indonesia.
      Mereka mesti sudi dikontak atasannya dini hari lantaran Sang Atasan tersulut emosinya oleh satu dan lain hal. Mereka perlu menanggapi dengan ramah, manis, dan menguras kesabaran keluhan-keluhan klien atau penyandang dana ketika baru bangun tidur.
      Dan, lagi-lagi, sebagaimana kerja para wartawan media daring, kerja yang paling menguras waktu bukanlah kerja yang konkret. Ia adalah kerja-kerja menyusui keinginan yang tak ada habisnya bila seseorang tidak mengeremnya. Teknologi membuka ruang selebar-lebarnya, selentur-lenturnya untuk menagih kerja orang lain kapan pun dan di mana pun, dan relasi kerja yang timpang menyebabkan mereka tidak mungkin menolaknya. "Belum tipes, belum loyal,” katanya.
      Relasi kerja timpang
      Hal Varian, dengan demikian, boleh saja memimpikan orang-orang kian dimanjakan seiring tak terelakkannya perkembangan teknologi. Namun, dengan lemahnya posisi pekerja di Indonesia—dan sebenarnya juga di banyak negara lain—ia rentan menjadi mimpi muluk-muluk belaka bagi kebanyakan orang. Inovasi teknologi alih-alih memangkas kerja malah menciptakan kerja, dan alih-alih menghemat waktu kerja malah menyebabkan kerja menjajah waktu senggang kita hingga jengkal terakhirnya.
      Dengan tersedianya laptop, yang katanya memudahkan hidup banyak orang, toh, apa yang terjadi kalau bukan pekerjaan kini dianggap dapat dituntaskan di mana pun?
      Dan dengan tersedianya angkutan daring, apa yang terjadi kalau bukan manajemen tidak lagi mempermasalahkan jam pulang pekerjanya?
      Apa yang bisa kita antisipasi dari perkembangan teknologi menghebohkan selanjutnya, karenanya, kalau bukan ia semakin menyempurnakan eksploitasi pekerja?
      Mungkin, dengan demikian, teknologi tidak seharusnya semata berkembang dan melangkah maju. Ia juga tidak bisa melaju dengan kacamata kuda. Ia tidak seyogianya terjatuh ke tangan yang salah.
×
×
  • Create New...