Jump to content

Google dan Microsoft Bikin Standar Email Baru Untuk Cegah Malware


Recommended Posts

new-inbox.png

Raksasa teknologi seperti Google dan Microsoft berencana menguatkan sistem enkripsi pada pesan elektronik alias email.

Mengutip situs BGR, perusahaan besar seperti Google, Microsoft, dan LinkedIn akan mengembangkan sistem baru yang memungkinkan pembaruan standar SMTP ini agar pesan email bisa terenkripsi sepenuhnya.

Pengajuan yang sudah diserahkan ke Internet Engineering Task Force (IETF) memaparkan mekanisme baru bernama Simple Mail Transfer Protocol Strict Transport Security (SMTP STS).

Ini merupakan pembaruan dari standar lama yang sebelumnya dipakai pada setiap email yang terkirim. Sebelumnya, email yang terkirim akan melalui standar sistem bernama Simple Mail Transfer Protocol (SMTP) yang pertama kali dikembangkan pada 1980-an dan diakui masih lemah untuk mengenkripsi pesan-pesan yang terkirim.

Lihat juga:Pelopor Email Meninggal Dunia

Tujuan utama dari standar baru SMTP STS adalah mencegah serangan siber yang tidak diinginkan. Bisa dibilang, ini adalah bentuk protokol yang lebih aman dan ketat dari sebelumnya.

Hal ini juga ingin dilakukan Google dan Microsoft yang telah melakukan pengajuan protokol baru untuk memperkuat peranti lunak MTA (message transfer agent) yang tugasnya mengirim pesan email agar lebih waspada terhadap gangguan proses pengiriman. 

Cara kerjanya nanti akan demikian, ketika pengguna mengirim email ke alamat tujuan yang sudah mendukung standar protokol SMTP STS, software MTA secara otomatis akan mengecek apakah alamat tujuan sudah dilengkapi oleh enkripsi penuh atau belum. Jika sudah, maka akan ada semacam sertifikat valid.

Pada intinya, Google dan Microsoft ingin mencegah email diganggu oleh server jahat seperti peretasan hingga virus saat pesan sedang proses pengiriman ke alamat tujuan.

Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By BisaJadi
      Setelah sempat "tak sengaja" membocorkan tampilan Start Menu terbarunya pada akhir 2019 lalu, kali ini Microsoft mulai percaya diri memamerkan rancangan Start Menu baru di Windows 10 lewat sebuah klip animasi yang diunggah di Twitter.
      Namun, tampilan Start Menu itu tampak berbeda dengan bocoran yang sempat beredar beberapa waktu lalu.
      Microft tidak menghilangkan gaya "Live Tiles" berupa deretan ikon aplikasi berbentuk persegi, tapi mengubah desainnya sehingga tampak lebih rapi dan bisa menampilkan teks pendek, misalnya untuk preview e-mail.
      "Dibuat oleh tim desain @Windows, klip animasi ini menggambarkan sepotong evolusi #UX dan modernisasi pengalaman Windows," kicau Microsoft dalam twitnya, dikutip KompasTekno Jumat (10/4/2020).
      Dalam twit tersebut Microsoft memamerkan rancangan Start Menu Windows 10 dengan sangat jelas. Ada dua mode tampilan yang ditunjukkan, yakni dengan latar belakang warna cerah dan warna gelap.
      Tim pengembangan Windows tampaknya lebih berfokus untuk menciptakan sebuah tampilan Start Menu yang lebih simple dengan gayanya yang tidak terlalu berubah.
      Belum jelas kapan rancangan Start Menu di atas akan benar-benar diimplementasikan ke Windows 10. Boleh jadi, Microsoft menyiapkan Start Menu baru ini untuk perangkat-perangkat foldable dengan dua layar yang akan menjalankan OS Windows 10X.
      Sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Wccftech, Selasa (14/4/2020), Windows 10X kemungkinan akan dirilis tahun ini, namun bisa saja tertunda lantaran pandemi Covid-19 yang masih merebak di berbagai belahan dunia.
    • By theblue
      Virus Corona COVID-19 telah dinyatakan sebagai wabah yang pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Perusahaan teknologi besar seperti Google dan Twitter memperbolehkan karyawannya dari rumah.
      Sejak Kamis (12/3/2020) Google sudah memandatkan 300.000 karyawannya untuk bekerja dari rumah. Khususnya untuk karyawan yang berbasis di Inggris, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. Sebagai antisipasi penyebaran covid-19 atau virus corona.
      Pemberlakuan kerja dari rumah itu akan dilakukan sampai pemberitahuan lebih lanjut oleh Google.
      Google mengatakan, satu-satunya wilayah yang tersisa menjalankan bisnis seperti biasanya pada saat ini adalah Amerika Latin.
      Selain itu, Google juga telah memberi tahu lebih dari 100.000 karyawannya di Amerika Utara untuk tetap di rumah di tengah virus itu hingga setidaknya 10 April.
      CEO Google, Sundar Pichai dan CFO Google, Ruth Porat, mendesak karyawan untuk tetap termotivasi untuk menjalankan infrastruktur global Google di tengah perubahan besar dan kekhawatiran seputar penyebaran virus.
      "Kami tahu ini adalah waktu yang sangat meresahkan bagi semua orang," kata Pichai dalam email internal, pekan lalu. Ia menambahkan bahwa perusahaan memiliki tim keamanan dan ketahanan yang siap menjalankan pusat komando 24 jam untuk membantu para eksekutif memantau situasi penyebaran corona.
      Perusahaan teknologi Twitter juga menerapkan hal yang seperti Google. Twittermemutuskan untuk mewajibkan 4.900 karyawan bekerja dari rumah untuk menghadang penyebaran virus corona COVID-19 yang telah menyebar ke banyak negara.
      Dalam postingan di blog resmi perusahaan, Twitter mengatakan, "Kebijakan kerja dari rumah ini bersifat wajib karena perusahaan memiliki tanggung jawab untuk mendukung komunitas perusahaan dan mereka yang rentan," ujar perusahaan seperti dilansir dari CNBC International, Kamis (12/3/2020).
      "Kami memahami bahwa ini adalah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi ini adalah saat yang belum pernah terjadi sebelumnya," lanjutnya.
      Twitter mengatakan mereka akan terus membayar kontraktor dan membayar karyawan per jam yang tidak dapat melakukan tugas mereka saat bekerja dari rumah.
    • By VOAIndonesia
      SAN FRANCISCO - Seorang mantan eksekutif Google yang mencalonkan diri untuk menjadi anggota Senat Amerika, Kamis (9/1/20), menyerukan pemberlakuan regulasi yang keras terhadap raksasa-raksasa teknologi, dan menuduh raksasa internet tempat dia pernah bekerja itu telah keluar dari jalur “jangan jahat.”
      Ross LaJeunesse membidik Google dan perusahaan-perusahaan teknologi besar lainnya di Amerika dengan menyatakan bahwa kini keuntungan lebih diutamakan daripada hak asasi manusia.
      “Moto perusahaan dulu adalah “jangan jahat,” kata LaJeunesse, yang meninggalkan pekerjaannya sebagai kepala hubungan internasional di Google tahun lalu setelah 11 tahun mengabdi di perusahaan itu. “Banyak hal telah berubah,” tambahnya.
      Kini dia mencalonkan diri ikut bersaing memperebutkan kursi Senat Amerika untuk negara bagian asalnya, Maine. Dia bersaing melalui jalur Partai Demokrat.
      Google menolak kritikan tersebut, dan mengatakan pernyataan LaJeunesse itu disampaikan dalam konteks kampanye pemilihan.
      “Kami memiliki komitmen yang tak tergoyahkan untuk mendukung berbagai organisasi dan upaya-upaya hak asasi manusia," kata juru bicara Google ketika menanggapi pertanyaan kantor berita AFP. “Kami mendoakan yang terbaik untuk Ross dengan ambisi politiknya,” tambah juru bicara itu.
      LaJeunesse bergabung dengan Google pada tahun 2008 dan menjadi kepala kebijakan publik perusahaan itu untuk Asia Pasifik sebelum mengambil posisi sebagai kepala hubungan internasional.
      Dia mengatakan dia adalah orang yang melaksanakan keputusan Google untuk tidak lagi menyensor hasil pencarian lewat Internet di China seperti yang diminta oleh pemerintah negara itu.
      “Keputusan itu membuat marah tidak hanya pemerintah China, tetapi juga membuat frustrasi sebagian eksekutif produk Google yang mengincar pasar yang besar dan keuntungan yang menyertainya,” kata LaJeunesse.
      “Faktanya, dalam waktu satu tahun sejak keputusan 2010 itu, eksekutif untuk Maps dan produk Android mulai berusaha meluncurkan produk mereka di China,” tambahnya.
      Dia menyatakan terkejut ketika mengetahui pada tahun 2017 tentang adanya proyek “Dragonfly” di Google untuk menyesuaikan versi mesin pencari untuk China. Proyek itu kemudian ditinggalkan karena menuai kritik masyarakat.
      LaJeunesse juga menyuarakan keprihatinan tentang upaya Google untuk menjalin kerja sama komputasi awan (cloud computing) dengan pemerintah Arab Saudi dan membangun pusat intelijen buatan (AI) di sana.
      “Tepat ketika Google perlu menggandakan komitmen pada hak asasi manusia, Google memutuskan untuk mengejar keuntungan yang lebih besar dan harga saham yang bahkan lebih tinggi,” kata LaJeunesse. “Itu tidak berbeda dalam budaya tempat kerja di Google,” tambahnya.
      Dia berpendapat bahwa karena pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin menyerahkan operasi perusahaan kepada para eksekutif yang digaji, maka semangat mencari keuntungan lebih besar daripada bertahan pada prinsip-prinsip yang semula diutamakan.
    • By purwa_weheb
      Gaya hidup orang-orang terkaya di dunia sebenarnya tak semewah yang diperkirakan. Meski memiliki harta ratusan sampai ribuan triliun rupiah, mereka masih mencintai hal-hal sederhana.
      Di Indonesia, walaupun menyandang predikat orang terkaya di Indonesia selama 11 tahun berturut-turut tak lantas membuat Michael Bambang Hartono sombong. Dengan kekayaan sekitar US$ 37,3 miliar atau sekitar Rp 522,20 triliun bersama sang kakak Robert Budi Hartono, Bambang bahkan lebih suka makanan Indonesia.
      Bambang mengatakan menu sarapan favoritnya jika berada di Kudus, Jawa Tengah adalah Lentog adalah makanan seperti lontong sayur yang beralaskan daun pisang. Satu porsi lentog terdiri dari irisan lontong, tahu, tempe, dan sayur nangka.
      Gaya hidup sederhana ini juga dimiliki oleh Bill Gates. Dengan kekayaan bersih sebesar US$ 92,9 miliar, salah satu pendiri Microsoft, Bill Gates dapat membeli apa saja yang diinginkannya, tetapi ia tidak melakukannya.
      Dalam Reddit Ask Me Anything 2016, Gates pernah ditanya tentang hal-hal apa saja yang ia tolak untuk mengeluarkan uang lebih banyak. "Saya tidak suka menghabiskan banyak uang untuk pakaian atau perhiasan," jawab miliarder itu, dikutip dari CNBC Internasional.
      Namun itu memang benar. Orang terkaya ini tidak menghabiskan uang untuk pakaian dan perhiasan. Pada acara Politico Lessons from Leaders 2014, bos Microsoft ini mengaku bahwa ia mengenakan arloji seharga US$ 10 atau setara Rp 140 ribu, dan sama seperti Zuckerberg, ia juga berpakaian sederhana.
    • By Forzaken_DT
      CEO Google yang baru saja diangkat sebagai CEO Alphabet, Sundar Pichai, makin tajir saja. Dia dipastikan bakal menerima bagian saham dengan nilai luar biasa besar.
      Pria kelahiran India ini dalam tiga tahun akan menerima jatah 'saham berdasarkan performa' sebesar USD 240 juta atau di kisaran Rp 3,3 triliun.
      Itu merupakan nilai saham tertinggi yang pernah diterima oleh seorang eksekutif Google. Soal gaji, setiap tahunnya mulai 2020 Pichai bakal meraup USD 2 juta.
      "Dalam hal pemberian saham yang didapatkan saat pengangkatan CEO, memang masih di bawah USD 376 juta pada Tim Cook ketika dia mengambil alih Apple," ujar Amid Batish dari Equilar, perusahaan yang meneliti pendapatan eksekutif.
      Saat dulu diangkat sebagai CEO Google peda tahun 2015, gaji tahunan Pichai 'hanya' USD 652.500. Di tahun berikutnya, pundi-pundinya melesat berkat jatah saham senilai USD 199 juta.
      Pichai dengan kecerdasan dan kepemimpinannya memang menjadi anak emas pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin. Keduanya telah lengser sebagai pemimpin Alphabet dan mempercayakannya pada Pichai.
      Pichai lahir di Tamil Nadu, India, 47 tahun lalu di sebuah keluarga sederhana dan pindah ke Amerika Serikat untuk kuliah. Ia gabung Google pada tahun 2004. Karirnya melesat begitu cepat di mana salah satu prestasinya adalah membuat browser Chrome sukses besar.
×
×
  • Create New...